Di Internet, Tak Ada yang Tahu Kamu Adalah Seekor Anjing *


Judul ini merupakan adaptasi dari kartun karya Peter Steiner yang pernah dimuat di
The New Yorker, “On The Internet, Nobody Knows You’re a Dog”.

Prolog:

Polda Metro Jaya, Jakarta (2004).

Suasana hiruk pikuk kian tak terkendali ketika pembawa acara mengatakan bahwa jumpa pers akan segera dimulai karena Trixie The Tricky sudah memasuki ruangan. Kumpulan wartawan memberondong siapa saja yang masuk dari arah pintu masuk. Ternyata mereka adalah beberapa narasumber yang sudah akrab bagi wartawan dan publik.
Seorang gadis mungil, kurus cenderung kerempeng dan wajah pucat duduk dengan manis di kursi deret paling belakang. Air mukanya innocent dengan kacamata ala kutubuku. Tak seorangpun mempeduliknnya. Sosoknya yaag dibalut dengan baju ala kadarnya tak mengenal perkembangan fashion sungguh tidak mengundang perhatian. Ditambah dengan sikap diam, malu-malu menatap orang, dengan tatapan mata kosong, menandakan pikirannya sedang melayang entah kemana.
Komandan reserse bagian kejahatan informatika, seorang pakar hukum dan pengamat teknologi informasi sudah menduduki kursi pembicara. Mereka mulai bercuap-cuap ihwal tertangkapnya otak cybercrime sekaligus pimpinan komunitas underground Internet. “Kami memang sudah berhasil menjemput Trixie ini langsung dari rumahnya. Tapi keberadaannya masih kami belum bisa kami sebutkan karena masih menunggu bukti-bukti otentik lain.”
Suara lain terdengar, “Undang-undang yang sudah ada saat ini mampu menjerat tindak kriminal di Internet walau kita belum punya cyberlaw…” Lalu ditimpali wartawan yang bertanya kritis. Ujung dari semua itu adalah pertanyaan, dimanakah si hacker yang katanya sudah tertangkap itu disembunyikan?
Wartawan tambah tak sabar berkasak-kusuk saling bertanya dimana Trixie.
Waktu terus berlalu dan panitia tak jua mengumumkan dimana Trixie. Para narasumber di depan hanya cuap-cuap tak tentu arah. Polisi memamerkan kepiawaiannya meringkus hacker yang diduga mengomandani semua kasus kejahatan Internet yang belakangan marak terjadi. “Dialah pimpinannya, setidaknya begitu menurut kesaksian beberapa temannya.”
Gadis pucat kerempeng tadi, yang duduk diam di sebelah seorang wartawan yang nampak anteng mulai bergeming. Ia diapit dua lelaki berbadan kekar. Yang satu beranjak pergi. Satu lagi nampak keasyikan sendiri tenggelam menyaksikan jalannya acara. “Saya mau ke toilet,” ujar si gadis pelan. Si lelaki kekar hanya mengangguk. Gadis beringsut bangun. Dilihatnya seorang wartawan anteng menekuni buku notesnya. “Kamu wartawan?”
“Ya betul, kenapa mbak?”
“Kalau saya beritahu dimana Trixie, maukah kamu berjanji tidak bilang siapa-siapa dan menuruti semua kata saya?”
Si lelaki yang ternyata adalah wartawan sebuah harian ibukota terkejut seolah tak percaya. Sudah hampir satu jam ia menunggu di tempat ini tanpa kepastian munculnya tersangka pemimpin komunitas cybercrime itu. Mendengar nama Trixie disebut, kontan ia tersontak. “Wah, yang bener mbak. Tentu saja mau!”
“Ikuti saya.”
Si wartawan membuntuti perempuan kurus tadi. Mereka menyelinap ke belakang. Di dekat toilet, si gadis kurus terhenti. Ia terduduk di kursi kayu dekat situ.
“Saya Trixie. Saya ngga mau tampil di depan sana dan jadi santapan media. Saya hanya mau bicara dengan satu wartawan yang saya percaya. Kamu sejak tadi diam saja dan sabar menunggu. Mau ke kedai kopi dekat sini?”
“Tunggu dulu. Kalau kamu benar Trixie yang katanya tertangkap itu, bagaimana mungkin kamu bisa bebas berkeliaran,” si wartawan sangsi menahan langkahnya.
“Saya bebas selama masih di area sini aja. Tadi saya diapit pengawal dan saya sudah izin ke toilet.”
“Saya ngga percaya!” Si wartawan berkeras.
“Oke, lantas apakah kamu sendiri tipe orang yang bisa dipercaya?” Si gadis naik pitam. Lelaki itu mengeluarkan kartu persnya. Tertera nama media, alamat dan namanya sendiri. Sebuah media yang terkenal tidak suka memberitakan hal-hal bombastis. Tak heran kalau ia sedari tadi tidak seantusias wartawan lain dalam meliput acara ini.
“Kita ngga bisa ngobrol panjang di sini. Sebentar lagi pengawal saya akan datang mencari saya. Kalau mau, temui saya di penjara besok atau lusa. Bilang saja kamu saudara saya, satu-satunya keluarga yang ada selain nenek saya,” ujar si perempuan berwajah culun itu. Belum sempat si wartawan menjawab, seorang lelaki kekar datang menghampiri. Si gadis seolah tak berdaya langsung pergi bersamanya. Jadilah si wartawan tertegun sendiri. Mematung.

Bagaimana mungkin perempuan kurus tak berdaya itu adalah Trixie The Tricky yang diberitakan gembong dari kelompok cybercrime? Bisa saja perempuan tadi hanya orang gila yang kebetulan ada di situ lalu berniat cari sensasi. Tapi benar ia dikawal oleh polisi berpakaian preman. Arya tak pernah bisa mengusir kecamuk itu dari pikirannya. Bagaimana kalau ia memang benar si Trixie? Bukankah ia telah membuang-buang kesempatan emas yang bisa jadi merupakan prestasinya di bidang jurnalistik.
Jawaban dari semua itu tersimpan di balik dinding sana. Rumah tahanan sementara Polda Metro Jaya yang dijaga ketat petugas. Walau wartawan, setidaknya harus punya koneksi khusus untuk bisa menembusnya. Tapi jangan panggil ia Arya kalau tak sanggup membobol birokrasi instansi kepolisian negara ini. Sesuai pesan perempuan kemarin itu, ia mengaku sebagai saudara jauh dari kampung yang ingin membesuk. Ia berhasil meloloskan tip rekam mungil di balik sepatu botnya yang bersol tebal.
Di sanalah ia menemukan jawaban dari semuanya. Benar, perempuan itu adalah Trixie. Wajahnya pucat, rambut kusut masai. Matanya cekung pertanda kurang tidur. Ada guratan antusias saat melihat kedatangannya.
“Kamu bawa kertas dan pulpen?” Trixie berbisik. Arya mengangguk. “Kamu tahu blog? Weblog?” Arya tersenyum. Gila, cewek imut ini ketara sekali meremehkannya. Begini hari tidak tahu blog? Ia sendiri justru seorang blogger walau tidak rutin mengisi jurnal online itu setiap hari. Tergantung mood dan waktu yang tersedia saja. Tahu sendiri, wartawan tidak bisa berkutat lama di depan komputer. Maka pertanyaan Trixie hanya dijawab dengan bola mata yang diputar menandakan ekspresi seolah berkata, please! Trixie sedikit tak sabar. “Semacam website tapi sifatnya pribadi. Mana kertas dan pulpenmu?” Segera Arya menyodorkan notes dan pena. Trixie mencoretkan beberapa alamat blog di situ. Cukup banyak, berbaris panjang.
“Itu alamat blog punyaku dan beberapa teman dari komunitas kami. Buka dan baca. Dari situ kamu akan tahu kebenaran kisah kami. Semua cukup valid, bisa dipercaya. Kamu boleh mempublikasikannya. Terserah, dijadikan buku atau tulisan bersambung di koran.”
Arya memandangi barisan alamat blog itu. Sebarisan alamat blog itu yang membawanya ke petualangan ini.

***

Bab I: Dunia Bebas, Antara Dunia Nyata dan Maya, 2001

(Petikan dari http://thebeginner.blogspot.com)
The Beginner
Sepatu mangap lagi. Padahal sudah dilem dengan super glue yang beli di abang-abang seribuan satu. Padahal juga, ini sepatu kesayanganku. Sebuah sepatu boots hak tujuh centi berbahan suede warna coklat pekat. Kalau dipakai bersama jeans belel yang ujungnya dipotong serampangan akan nampak indah. Tubuhku yang mungil sedikit tertolong dengan sepatu itu. Kelihatan menjulang tinggi, melangkahpun jadi gagah. Pokoknya sepatu kebanggaan yang mndongkrak eksistensiku di muka bumi.
Sayang, sepatu mahal itu kubeli dua tahun lalu dengan voucher belanja sebuah pertokoan kelas atas. Vouchernya hadiah dari teman. Lumayan mahal buat kantongku. Mustahil bisa beli lagi sekarang. Jadi solusi satu-satunya adalah mengelemnya dengan super glue setiap kali dia mangap minta makan.
Sialan, di tengah terik panas dan jalan berdebu begini sepatu itu tanpa kompromi mangap minta dicekoki super glue. Susan di depanku berjalan cepat tanpa menengok ke belakang. Sungguh sahabat sejati!
Tentu saja ia takkan peduli dengan aku yang berjalan terseok, sebab sudah ingin bertemu Angelou atau apapun itu namanya, cowok Italia yang dikenalnya di channel Chatzone. Atau setidaknya begitulah ia mengaku. Aku sama sekali tak habis pikir bagaimana teman satu alumniku itu bisa diperbudak oleh komputer. Bahkan ia mengataiku gaptek alias gagap teknologi saat aku mengatakan belum punya email. Ia yang menggiringku ke warnet dan membuatkan email.
“Apa nama id elu?” Susan bertanya setelah mengisi panel-panel kosong sembarangan saja. “Jangan nama gue. Kampungan. Ngga keren. Tri…hmm Trixie aja,” jawbku asal. Susan kembali mengetuk-ngetuk keyboard dengan cepat. Kupikir dengan kemampuan begitu sebaiknya ia jadi sekretaris saja. Tapi heran, lebih dari setengah penghasilannya dihabiskan di warnet. Kantornya memang ada Internet, tapi aksesnya dibatasi hanya untuk kelas manager. Sedangkan ia, walaupun cantik, pintar dan sarjana sepeti aku, sekadar karyawan staf biasa, ditambah lagi predikat orang baru di kantor yang notabene takkan dipercaya untuk diberi akses berharga apapun.
Jadilah aku punya email. Jadilah Susan mengajariku chatting, browsing, berkiriman email, mencari teman di Internet. Aikon mIRC berbentuk wajah bulat tertawa diperkenalkannya padaku. Setelah diklik aku bisa menseting nickname, email yang ingin diperlihatkan atau nickname alternatif. Tinggal pilih server chat mana yang mau diikuti. Susan menyarankan Dalnet saja, server yang paling ramai dikunjungi chatter. Lalu tinggal memilih channel alias chat room.
“Lu kan pemalu, Tri. Jadi lu bisa nambah temen dari Internet. Modalnya gampang kok, pake sedikit imajinasi. Ngga usah terlalu jujur mengenai diri elu. Sebab ngga semua orang mau jujur di Internet. Cari foto lu yang paling ngga jelas, tapi terkesan cantik. Minta penjaga warnet scan-in, terus simpen di disket atau email. Kalau chatting biasanya suka ada yang minta pic, artinya minta foto,” Susan memberi kuliah singkat.
Sungguh konyol awalnya. Apalagi kuperhatikan semua pengunjung warnet nampak asyik masyuk dengan komputernya sendiri-sendiri. Ada yang menatap monitor dengan mata melotot, cengar-cengir sendirian, sampai ada yang menitikkan air mata. Persis sekumpulan orang gila.
Temanku Susan tak jauh berbeda. Di satu saat ia kegirangan sendiri, melonjak-lonjak di kursinya sambil bersemangat mengetik secepat kilat. Pernah ia menjeri kesenangan ke arahku saat ponselnya berbunyi. “Itu tadi Leonardo! Dia nelpon gue, Tri!!! Langsung dari Spanyol!” Memang tadi kudengar Susan bercakap dalam bahasa Inggris patah-patah yang diulang-ulang mirip anak SD. Katanya Leo juga tak fasih berbahasa Inggris, cuma bisa Spanyol. Di Internet mereka tak banyak kesulitan, tapi begitu bercakap ternyata banyak lafal Inggris yang porak poranda satu sama lain. Jadilah Susan bicara di telepon dengan gaya Inggris kacau balau , penekanan kata di sana-sini. Bahkan diiringi gerakan tangan bahasa Tarzan, walau Leo jelas saja tak bisa melihatnya. Sungguh konyol.
Tapi itulah temanku Susan. Yang tangis dan tawanya ditentukan oleh online tidaknya teman chattingnya. Pacar di Internet. Huh, lucu sekali kedengarannya. Dan aku terbawa saja arus euphoria pada dunia maya itu. Mulai punya teman dari New Delhi, Qatar, London bahkan Tel Aviv. Mencoba masuk di channel Rusia, France, sampai Teheran. Sungguh gila kalau diingat aku hanya bisa dua bahasa, Indonesia dan Inggris patah-patah. Lalu disusul tukar menukar foto, email-emailan, diskusi, dan telepon. Tentu saja mereka yang meneleponku, sebab aku harus berpikir sejuta kali untuk melakukan telepon internasional dengan penghasilan seorang sarjana fresh graduate yang baru diterima kerja sebagai staf litbang.
Susan juga yang mengajadi istilah-istilah yang banyak dipakai dalam dunia maya. Aku jadi mulai hapal apa kepanjangan ASL , BF/GF, ASAP, BTW, FYI, LOL, GTG, BRB hingga aikon smiley lucu-lucu. Tapi antusiasku mencari teman chat tak seantusias Susan yang memang bisa dikatakan maniak.
“Cepetan dikit dong Tri…udah jam 7 nih,” Susan berseru dari kejauhan. Aku terseok melangkah dengan sepatu mangap sebelah. Sepertinya Susan tak sabar lagi ingin segera online dan chatting bersama Angelo. Sesampai di warnet, ruangan lumayan penuh. Percuma saja ruangan ini diberi AC dan pengharum sebab asap rokok mengepul dari beberapa sudut. Susan langsung mendudukan pantatnya di salah satu kursi, langsung tenggelam dalam dunianya di depan komputer. Aku sendiri kurang tertarik untuk mengambil posisi di salah satu meja, sebab sekarang aku sudah bisa mengakses Internet di kantor. Waktu mendengar kabar itu Susan memekik iri. Tapi aku berjanji akan setia menemaninya mengunjungi warnet sebagai balas budi atas antusiasnya memperkenalkanku pada dunia maya. Oh ya, juga membuatkan email.
Susan terus asik mengetukkan jarinya pada keyboard, sementara aku tercenung memandangi seisi warnet yang agaknya tak peduli satu sama lain. Berteman di dunia maya memang mengasyikan. Namun sejauh ini belum ada satupun yang membuatku mabuk kepayang seperti Susan. Mungkin karena aku terlalu jujur, polos atau apalah istilahnya. Kata beberapa teman, kita jangan terlalu jujur di Internet. Semakin pandai kita menipu orang lain, makin hebatlah kita berlaga di sana. Pelajaran itulah yang belum kupraktikkan. Setidaknya aku masih mengirimkan pic diriku sendiri, bukan orang lain. Rasanya mustahil kalau aku harus mengirimkan pic salah satu artis lokal Indonesia dan mengakuinya sebagai diriku pada teman chatku di benua lain. Dia bisa saja mendadak ingin mengunjungi Indonesia dan bertemu denganku. Kalau itu terjadi, apa yang kulakukan? Sungguh bukan seorang penipu ulung kau, Trixie. Tak sesuai namamu!
Sampai pukul 9 malam Susan masih semangat di depan komputer. Aku sendiri sudah habis membaca semua majalah, melalap sepiring bakso, dua botol soft drink dan satu butol air mineral. Tubuhku mulai penat, bosan bukan kepalang. Kuhampiri Susan yang matanya nyaris menempel kaca monitor. “Pulang duluan ya gue, San.”
“Hmm…kayaknya mendingan gitu deh. Gue baru aja nemu temen asyik. Namanya Michal, orang Rusia tinggal di Amrik. Tadi gue berantem sama Angelo. Brengsek tuh anak, kirim email kayak gini,” Susan membuka emailnya dan dipamerkan padaku. Hanya kulihat sekejap. Penuh kata makian macam “shit” dan “fuck”. Wow, lumayan banyak menonton film Hollywood juga dia. Menunggui Susan online sama saja menunggu Godot. Tak jelas kapan usainya.
Heran aku mau saja menemani dia. Sebab memang sepulang kerja aku tak punya kegiatan menarik untuk dilakukan. Faktanya Susan kuat online dari mulai matahari terbenam sampai matahari menyingsing. Dia selalu mencari warnet yang buka 24 jam. Pernah suatu kali ia ada di warnet yang hanya buka sampai jam 12, lalu ia merayu penjaganya agar menunggui dia sampai pagi dengan alasan kehabisan bis.
Kalau ada kejuaraan tahan lama online, Susan pasti juaranya. Tunggu dulu, adakah prestasi semacam itu sudah tercatat di Guiness Book of Record? Malam itu kutinggalkan Susan di warnet. Jam menunjukan pukul 10.30 malam sesampai aku di rumah. Sebuah hari melelahkan, membosankan dan garing. Tubuhku langsung ambruk terlelap begitu menyentuh ranjang.

Weker menjerit mengagetkan. Jarum menunjuk pukul 6 pagi. Sebuah hari membosankan lain akan segera dimulai. Dengan malas kumelangkah ke kamar mandi. Semestinya sebagai gadis fresh graduate yang baru saja memulai karirnya di sebuah perusahaan besar, aku menyambut hari dengan antusias. Hingga hari ini sudah seminggu aku masuk kerja dan tak setitik pun antusias itu menyelip di benak.
Kantorku sekarang tak banyak beda dengan kampus dulu. Lulusan sebuah universitas negeri terkemuka seperti aku memang agaknya layak saja diterima bekerja pada persuahaan media besar. Tapi kehidupanku juga tak banyak berubah. Kampusku dulu boleh saja hebat, terpandang, bahkan jutaan remaja rela mati-matian belajar demi diterima di sana. Tapi aku selalu merasa sebagai partikel terkecil di komunitas luar biasa yang penuh canda tawa, buku dan pesta itu. Pun demikian halnya yang kurasakan di kantor sekarang.
Kantorku adalah bagian dari gedung berlantai tujuh dengan karywan hampir seribu orang. Sebuah group media raksasa yang dimpimpin pengusaha sukses. Kata teman-teman, aku hebat bisa bekerja di sini. Staf litbang yang berkantor di lantai lima, ruangan paling ujung.
Di ruang ini aku bersama lima staf lain, satu kepala dan dua wakil kepala divisi setiap hari tepekur menekuni tumpukan buku, majalah, Koran, tabloid dan komputer. Kerjaku setiap hari adalah mencari data apa saja yang dibutuhkan oleh bagian redaksi. Pencarian data dan informasi ini mengandalkan Internet dan tentu saja situs pencari alias search engine. Sumber lain adalah menghubungi instansi yang bersangkutan, mulai dari lembaga asing, pemerintah atau swasta. Prosedurnya lumayan rumit mengingat memang negara ini kurang familiar dengan pengarsipan data dan dokumentasi. Mencarai semua data yang dibutuhkan tanpa peduli betapa sulit sistem birokrasi yang harus ditempuh, itulah tugasku.
Baru saja menyentuhkan pantat ke kursi, biasanya aku akan diberondong dengan telepon dari bagian redaksi. Isinya perinta seperti, “Carikan data tentang kematian Marsinah, mulai riwayat hidup sampai perjuangannya.” Atau juga “Minta data soal kredit macet bank Mandiri, segera.” Semua perintah datang bagai air bah. Beberapa di antaranya tak memberi batasan jelas data macam apa yang harus dicari. Bayangkan saja kalau ada perintah seperti , “Minta data tentang filsafat etika”. Apa aku harus mengumpulkan semua hasil search engine tentang filsafat etika itu? Sampai dimana batasan aku harus berhenti mencari, apakah sampai deadline usai atau hingga mentari terbit di esok harinya? Tak ada yang menjawab pertanyaan itu.
Situasi kantor sendiri tak banyak beda dengan kampus dulu. Kasak-kusuk di belakang memperbincangkanku seolah aku ini alien atau laba-laba raksasa berkepala manusia. Atau mata yang terkesiap melihatku datang, mengupas penampilanku dari atas ubun-ubun sampai jempol kaki. Tatapan mereka selalu begitu. Terbelalak, aneh, lalu jadi geli dan disusul tatapan dingin di pertemuan selanjutnya. Mereka selalu bergerombol atau berpasangan berdua. Aku sendiri, seperti biasa sejak dulu selalu seorang diri
saja.
Susan, karibku sejak kuliah memang sempat mengkritik penampilanku. Katanya aku mirip Velma, salah satu tokoh dalam serial kartun Scooby Doo. Tapi dalam versi yang jauh lebih kurus. Dia pernah mendandaniku dengan gaya masa kini yang katanya fungky. Hanya sekali aku berani tampil di muka umum. Selanjutnya kembali ke gaya asal. Tunggu dulu, jangan berpikir aku 100% mirip Velma. Kacamataku tak setebal itu dan rambutku bukan model bob pendek membulat.
Tidak tepat juga aku dibilang kutu buku. Buku memang ada untuk dibaca, bukan?Jadi jangan salahkan aku kalau terus menerus membaca selama masih banyak buku di toko yang belum dibaca. Lagipula buku tak pernah menggunjingiku. Mereka tak pernah mentertawakanku saat anak-anak rambutku di ubun-ubun berdiri menjigrak mirip landak. Atau mendadak aku menabrak pintu kelas karena selalu berjalan menunduk. Buku juga tidak mengataiku culun dan ketinggalan zaman hanya karena aku tak suka nonton konser musik, nongkrong di café atau pakai tank top. Singkatnya, buku adalah sahabat setia penuh pengertian. Jangan salahkan aku kalau selalu membawa buku kemanapun aku pergi.
Tak bisa dibayangkan hidup tanpa buku. Benda itu sungguh ajaib, luar biasa. Berisi ide, cerita hingga teori hasil pemikiran orang yang berbeda-beda. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan Sigmund Freud, Hobbes atau Voltaire. Tak kalah menyenangkan menyimak petualangan sel-sel kelabu di kepala Hercules Poirot sampai Sherlock Holmes. Aku juga melahap habis semua buku politik, fiksi, non fiksi, serta penjabaran teori mengenai Tuhan dalam Histpry of God. Semuanya sangat masuk akal dan logis. Membaca buku jauh lebih membahagiakan daripada kita harus berurusan dengan manusia lain dalam bentuk nyata. Kecuali Susan tentunya. Cewek cantik itu beda dengan temanku yang lain. Ia tak pernah menggunjing, menjelekkan dan memusuhi. Heran, padahal ia punya segudang teman cewek dan cowok yang selalu berseia mengajaknya jalan kapan saja. Tapi Susan lebih suka menghabiskan waktu denganku. Cewek berambut panjang itu akan menyuruhku menutup buku segera begitu ia mendekat. Lalu mulutnya menyerocoskan segala kisah hidupnya mulai dari terbangun di tempat tidur hingga detik ia duduk di sampingku.
Pernah suatu ketika aku tanya kenapa ia yang punya banyak teman lebih suka akrab denganku. Kalau tak salah ia pernah spontan menyatakan aku orang yang sangat easy going, mandiri, kalem, ngga peduli sekitar. Masih ingat betul bagaimana pertamakali Susan menjadi temanku.
Saat itu aku sedang asik menyimak salah satu cerpen dalam antologi “Dinding” karya Jean-Paul Sartre di bangku taman kampus. Mendadak dia membanting pantat di sebelahku. Menggumamkan sesuatu yang aku tak bisa mengerti. Pikiranku masih melayang antara tulisan Sartre dengan dunia nyata. “Malah bengong lagi diajak ngomong! Gue sirik sama elu yang kayaknya punya dunia sendiri, dunia pribadi, sedangkan orang lain pada ngontrak. Nyokab lu dulu ngidam apa, kok bisa-bisanya elu dilahirkan sebagai orang super cuek, easy going? Apa lu ngga pernah punya masalah?” Bibirnya yang belepotan lipstik mencicit seolah dia adalah nenek yang kesal karena cucunya menolak disuapi. Jelas saja aku tercengang luar biasa. Dia bukan orang yang kukenal. Setidaknya tak pernah mengobrol atau menyapa. Bahkan namanya pun ku tak tahu. Tapi dia memang cukup terkenal kurasa. Sering terlihat berada di antara banyak teman dengan dandanan keren. Minimal begitulah penilaian awam mengenai definisi keren itu tadi.
Sejak kejadian di taman itu cewek yang kelamaan kutahu bernama Susan mulai sering mengiringiku. Waktu aku membuka bekal makan di tepi kolam misalnya, mendadak dia duduk di sebelah sambil menawarkan soft drink. Beberapa kali tak kupedulikan. Tapi kelamaan dia sering curhat, menceracau tak keruan sehingga mau tak mau aku menyimak setiap kisahnya. Singkatnya, ia menganggap aku manusia eksentrik. Katanya tampangku tak pernah berekspresi. Kalem, tenang, cool. Dia bilang semua teman pernah menggunjingkan tentang sepatu botku yang mirip pedagang ikan basah di pasar Inpres. Tasku juga persis tukang petik daun teh di Puncak. Semua orang sering memperolok, mentertawaiku terang-terangan tanpa tedeng aling-aling. Tapi menurut Susan aku begitu cuek dan cool.
Saat semua mahasiswa hebih karena uang semester naik atau ada teman yang mati tertembak dan kampus sempat rusuh karena demo, aku seolah tak peduli. Wajahku tetap saja datar tanpa ekspresi. Itu yang membuat Susan penasaran. Lebih dari itu Susan sempat berkata, “Elu ngga jahil kayak mereka. Rahasia gue semuanya aman sama elu. Lagian gue juga sudah bosan bergaul hura-hura ngga jelas sama pecundang itu.”
Hei, dia menyebut orang-orang keren itu pecundang. Bukankah itu lucu? Selama ini akulah yang selalu merasa sebagai pecundang. Aku yang katanya punya selera mode ketinggalan dua dekade dari sekarang. Yang benci membaca majalah fashion atau mendengar musik pop. Lebih suka berkutat di perpusatakaan saat semua penghuni kampus berjingkrakan menonton konser musik. Yah, mau bagaimana lagi. Buku memang hidupku. Di samping Susan dan nenek tentunya. Dua orang yang punya frekuensi paling banyak berkomunikasi padaku setiap hari.
Sayang, sejak bekerja di pusat litbang ini aku jadi jarang baca buku. Lebih banyak tepekur di depan monitor komputer. Thanks God ada banyak situs menarik di Internet. Merekalah buku-buku virtualku. Penghibur di sela kejenuhan kerja. Dalam sehari aku bisa mengeklik puluhan bahkan ratusan situs. Mulai situs berita seperti BBC, Reuters, CNN, ABC, hingga yang berat seperti Newscientist, Space, National Geographic, Scientific America, dan banyak lagi.
“Woi, kacamata lu bisa nambah tebel jadi kayak pantat botol, Tri!” Begitu Didi teman sebelah mejaku menegur kalau aku sudah asik tenggelam dalam satu situs. Ah, tahu apa dia soal aku? Memangnya dengan mengurangi intensitas browsing maka teman kantor lain akan menjadi bersahabat denganku? Sama sekali tidak.
Teman kantorku sama saja dengan teman di kampus dulu. Sepasukan penggunjing yang hobi mencela orang lain tanpa peduli orang itu adalah manusia yang punya panca indra. Kalau dulu aku dijuluki Velma, maka di sini aku dipanggil Nyonya Bill Gates. Alasannya, aku berkacamata dan berponi mirip bos Microsoft itu. Lebih dalam lagi, aku memang lebih suka berteman dengan komputer daripada mereka.
Hei, bukan salahku kan kalau aku lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di meja saja? Jam makan siang di saat semua berebutan keluar ruangan justru kumanfaatkan untu membuka bekal dari rumah. Mengunyah makanan di depan komputer itu asik sekali. Jauh lebih asik daripada harus makan bersama-sama dengan kelompok penggunjing itu, meciap-ciap seperti anak ayam berebut cacing.
Bukannya aku tak pernah berusaha membaur dengan mereka. Hari pertama aku sudah berusaha akrab, memberi senyuman dengan harapan bisa berteman. Namun sambutannya dingin-dingin saja. Aku tahu, selalu ada gap senioritas di setiap komunitas. Tapi memperolok penampilan secara terus terang di depan mukaku sama sekali tak bisa ditolerir.
Itu terjadi di suatu pagi setelah deadline usai. Kepalaku seperti dibebani berton-ton batu sesudah berkecamuk dengan aneka search engine untuk mengumpulkan aneka data dari meja redaksi. Jadi aku merasa berhak menundukkan kepala barang sebentar, menggelesot di atas meja. Ruangan ini terdiri atas sekat-sekat kubik yang kalau kita menunduk tidak akan terlihat dari kubik lainnya. Jadi Norma, seniorku yang ada di seberang kubikku mengira aku sedang ke toilet atau kemana saat ia dengan lantang berujar, “Anak baru yang kampungan itu kemana? Gue ngga liat dia keluar. Heran, dimana sih dia potong rambut?”
Telingaku langsung berdiri tentu. Lalu disambut suara lengkingan lain, “Kali emaknya sendiri yang motongin rambut. Lu tau baskom? Ditudungin ke kepalanya, trus tuh rambut digunting sesuai cetakan baskom.” Tawapun berderai dari seluruh pejuru ruangan.
“Belum lagi sweaternya itu, mana tahan. Gini hari masih pake sweater model rajutan nenek-nenek gitu?”
“Celananya dong, beggie ala tahun 80-an! Bener-bener udik tuh anak.”
Telingaku panas sekali, rasa panas itu merambat ke kepala sebentar, lalu menyebar ke hati dan seantero organ tubuh. Tak tahu harus tetap diam menunduk atau segera mengangkat wajah atau sebaiknya menghambur keluar. Yang ada aku hanya mematung dengan hati membara. Sungguh sekumpulan serigala liar tak beradab yang senang mengiyak-ngoyak harga diri! Aku berusaha sekuatnya untuk tenang. Ini bukan yang pertamakali kualami seumur hidup. Dulu di sekolah dan kampus juga sudah pernah. Hanya terkejut saja. Kukira manusia itu bisa dewasa seiring usia. Pada level dunia kerja semestinya mereka bisa sedikit lebih respek terhadap keberadaan manusia lain. Hari itu kusadari bahwa manusia tidak pernah menjadi dewasa seumur hidupnya. Barangkali memang hanya aku saja yang bisa dewasa di muka bumi ini.
Jadi kuangkat perlahan kepalaku. Langsung disambut dengan suara, “Ups, orangnya ada! Jadi dari tadi dia di dalem?” Disusul suara bisik-bisik sana-sini.
Sejak itu aku membeli speakerphone untuk mendengarkan musik melalui MP3 dari Winamp. Ini andalanku untuk meredam semua kicauan para serigala berbulu manusia itu. Aku juga sama sekali tak berusaha berbasa-basi dengan mereka. Hanya berkomunikasi secara professional saja. Sesekali Didi atau Heru masih mau menyapaku sekadar say hello atau bye. Tapi sisanya sungguh gerombolan alien biadab.
Memang apa salahnya aku pakai celana beggie? Apa itu merugikan mereka? Lalu sweater ini sah saja kupakai mengingat AC di ruangan ini dipasang tepat di atas kepalaku. Bahkan aku sebenarnya butuh topi untuk melindungi kepalaku. Kalau menuruti kata hati, aku ingin memakai mantel hujan lengkap dengan tudungnya selama bekerja. Bisa dibayangkan Norma atau Lisa akan terpekik histeris memanggil sekuriti untuk menyeretku ke rumah sakit jiwa atau justru UGD.
Sudahlah. Siapa butuh mereka? Aku hanya butuh komputer dan koneksi ke Internet, titik. Habis perkara. Jadi sejak pukul 9.00 pagi teng aku melangkah menuju bilikku dan sampai pukul 17.00 baru keluar dari sekat sialan itu. Thanks God ada Internet sebagai duniaku. Yeah, aku sudah menemukan duniaku di sana!!!

Malam itu aku menyeret tubuh ke tempat tidur. Mataku berkedutan lelah. Delapan jam lebih di depan komputer. Begitu melihat dunia nyata rasanya dunia maya yang tadi kujelajahi hanya mimpi sekejap saja. Aku baru saja memikirkan hendak ikut milis pecinta sastra. Sepertinya seru, saling diskusi ihwal bacaan bermutu. Dan tentu saja berkenalan dengan banyak orang yang tidak perlu bertemu fisik. Cukup saling berkirim email mengutarakan opini tentang satu buku yang kita suka, lalu akan dibalas dengan komentar member milis lainnya. Tak ada perjumpaan fisik yang membuat mereka tahu tentang kacamata tutup botolku, sweater rajutan nenek atau poni culun. Tidak ada pula yang mengharuskanku mengikuti fashion baju terkini, memakai tata rias aneh yang membuat mata seperti habis ditonjok tentara, dan sejenisnya. Yang kutemui hanya nama-nama yang entah asli atau bukan, sungguh tak peduli. Alamat email unik-unik, menarik untuk ditebak. Tentu mereka tidak sebengis semua temanku di kampus dulu atau di kantor kini. Besok aku akan mulai mendaftar.
Tiba-tiba pintu diketuk. Suara nenek terdengar pelan, “Tri, belum tidur? Ada telepon dari Susan.”
Nenek? Jangan kaget dulu, sejak kecil aku memang tinggal dengan nenek tersayang. Dulu bersama kakek, tapi dia sudah meninggal lima tahun lalu. Yah, kau bisa berpikir bahwa memang benar sweater yang kupakai ke kantor, yang jadi subyek olok-olok teman kantorku itu, memang betul hasil rajutan nenek tersayang. Hadiah ulang tahun ke-17. Masih bagus dan tetap kupakai serta akan tetap kupakai sampai semua benang wolnya brodol.
Sahabatku semata wayang, Susan, jarang menelepon. Lebih sering berkirim email. Berarti ini hal penting.
“Ada apa, San?”
“Hei Velma, jam segini udah bobo?”
“Kalau manggil gue pake nama itu lagi, gue tutup nih telepon.”
“Tambah sensitive lu ya sekarang. Kebanyakan nyari data? Hehehe. Gimana kabar lu? Masih belum punya temen di kantor?”
“Memang gue bisa punya temen selain elu?”
“Udah ngga usah dipikirin. Minggu depan gue ke Jerman. Kaget kan lu?”
“Sama Mark bule yang lu certain di email? Ini cuma janji gombal lagi ya?” Jangan heran kalau aku bertanya begitu. Sudah ke puluhan kalinya Susan punya pacar di Internet dan semuanya menjanjikan akan mengajaknya ke Yunani, Italia, Mesir sampai Israel. Selama ini hanya gombal kendati mereka sudah menelepon, mengirimi hadiah dan bahkan membuat Susan merencanakan nama anak-anak mereka. Luar biasa.
“Bukan gombal. Lu ngga nyimak email gue sih. Visa udah jadi. Apa perlu gue scan dan gue kirim ke email lu? Kali ini Mark serius. Dia udah transfer gue duit dalam jumlah gede. Tapi kalau ternyata sampai sana dia ngga sreg sama gue, dan gue ngga sreg sama dia, gue bisa kembali ke Jakarta dengan syarat mengganti setengah jumlah uang itu.”
“Apa? Gila lu! Kayak kencan kontrak aja. Lu ngga takut ternyata dia psikopat maniak yang cari cewek-cewek Asia buat dijual atau malahan dibunuh?”
“Hahahaha! Lu kebanyakan baca situs porno apa gimana sih?Tenang Tri, kali ini serius. Kita udah saling bilang I love you dan udah persis pacar beneran. Bedanya kita belum pernah ketemu langsung, itu aja.”
“Gue cuma mau bilang, hati-hati San. Kapan tuh gue baca di Yahoo News ada kasus penipuan lewat chat room model kayak elu gini.”
“Hei, kalau dia nipu, ngapain kirim uang banyak banget?”
“Yah udah deh kalo gitu. Gue hanya ngingetin aja biar lu waspada. Jadi gimana kerjaan elu di sini? Berhenti?”
“Gue cuti dulu. Kalau ternyata enak di sana ya gue tinggalin semua yang di sini.”
Sejenak aku membayangkan andai saja aku yang punya kesempatan meninggalkan kantor seperti Susan. Tentu bahagia sekali mengingat perilaku iblis sebagian besar rekan kantor. Tak sadar Susan masih mencerocos di seberang.
“Lu juga harus kayak gue, Tri. Cari jodoh atau seenggaknya temen baik di luar negeri lewat Internet. Kita harus memperbaiki nasib. Apa lu mau anak-anak lu kelak lahir dan tumbuh di negara gila dengan kadar polusi di atas ambang batas begini? Menurut riset terakhir disebutkan polusi udara Jakarta sudah bisa bikin anak kena gangguan pernapasan, bahkan mandul dan kanker rahim. Lu ngga mau itu terjadi kan? Ayo, sekarang saatnya memperbaiki nasib.”
Kepalaku jadi senut-senut mendengar ceramah kesehatan dan lingkungan Susan. Anak-anak? Apa bisa punya anak tanpa menikah? Apa mungkin menikah tanpa lelaki? Dasar Susan gila. Siapa yang mau menikah denganku?
“Come on, Tri. Lu ngga liat gue? Gue memang bisa dapetin cowok mana aja yang gue mau di Jakarta sini, tapi ngga ada yang gue ilih kan? Kenapa? Sebab memang gue ngga mau tinggal di Indonesia…”
Kusela dengan cepat sebelum teman baikku itu mencicit lebih panjang lagi. “Iya, San. Elu memang temen baik. Thanks nasihatnya. Tapi sekarang gue ngantuk banget. Lagian yang lu bilang tadi udah pernah lu tulis di email semua kan? Gue tinggal buka lagi email lu yang lama-lama dan baca lagi semua pesen elu. Ok?’ Klik, telepon kumatikan.
Siapa bilang perempuan adalah mahluk yang hanya dikendalikan perasaan? Kupikir justru kami kaum Hawa adalah manusia paling rasional di dunia. Lihat saja Susan. Ia mampu dengan baik mengontrol cintanya ke tempat selayaknya. Dengan dasar pemikiran bahwa setiap orang bisa mengendalikan cinta, maka otomatis logika ada di balik semuanya. Susan bisa dengan mudah menaruh cintanya kepada lelaki yang dirasa pas, cocok dan punya prospek baik dalam hidup. Memang begitulah semestinya. Aku pribadi belum sebaik susan dalam memadukan antara logika dan perasaan. Terbukti hingga detik ini belum ada lelaki yang sudi kujatuhicinta. Barangkali kujatuhi sudah sering, tapi tak satupun yang membiarkan cinta itu jatuh dan membalasnya. Haha! Sebuah tawa ironis getir. Siapa bilang cinta hanya milik cewek cowok trendy masa kini. Mahluk bernama Tri ini juga merasakan dirundung kasmaran. Tentang apakah lelaki itu menyambut cintanya atau tidak, itu perkara lain.
Kabarnya dia kini masih kuliah sembari bekerja paruh waktui sebuah perusahaan konsultan komputer. Kabar itu kudapat dari –siapa lagi- Susan. Pertama bertemu dengan cowok itu sekitar tiga tahun lalu di perpusatakaan kampus. Bisa kaubayangkan betapa tidak kerennya cerita ini. Bertemu cowok pujaan kok di perpustakaan, bukan di kafe atau mall. Sungguh mirip kisah roman picisan zaman kuda gigit besi! Mau diapakan lagi, duniaku dulu hanya seputar perpustakaan, bangku taman dan ruang kelas.
Aku sedang tepekur menikmati biografi Frida Kahlo ketika mendadak ada tangan yang menunjuk-nujuk halaman bukuku. “Itu lukisan dia waktu terbaring sakit di tempat tidur,” sebuah suara bariton menganggu. Kutengadahkan wajah, dan saat itu kulihat senyum paling manis dari wajah lelaki. Sudah lupa bagaimana percakapan kami selanjutnya. Singkatnya ia penggemar lukisan, termasuk karya Kahlo dan suaminya, Rivera. Ia juga agak tergila-gila dengan pemikiran kiri. Seumur hidup, baru kali itulah aku terlibat perbincangan panjang dengan salah satu kaum Adam.
Entah kenapa kami jarang bertemu. Baru beberapa bulan kemudian secara tak sengaja kami jumpa di taman. Aku baru saja membereskan bekal roti tawar selai buatan nenek sewaktu mendadak saja ia datang. Tubuhnya lebih kurus sepertinya. Kulitnya juga lebih hitam. “Sibuk turun ke jalan,” begitu katanya saat kutanya kemana saja kok tidak pernah kelihatan di kampus. Belakangan aku tahu dia seorang aktivis. Lebih banyak berdemonstrasi, mengurus organisasi, diskusi politik dan sejenisnya ketimbang kuliah. Terbukti dengan betapa jarangnya aku melihatnya di kampus. Kalaupun bertemu pandang kulihat ia tengah sibuk dengan kelompok sesama aktivis. Namanya lumayan popular di kampus. Banyak disebut-sebut di bulletin, surat selebaran dan majalah kampus sebagai aktivis yang kritis lagi berani. Dijamin bukan aku seorang cewek yang suka sama dia. Pasti segudang bahkan lebih.
Terahir kali pertemuan kami adalah beberapa hari sebelum wisuda. Dia masih belum bisa lulus karena banyak mata kuliah yang belum diikuti. “Sibuk demo melulu, jarang ngisi absensi,” kilahnya sambil melempar senyum termanis itu. Sebelum ia ditemukan teman-teman satu gengnya, sempatlah dia bercerita tentang bagaimana republik ini demikian kacau dan butuh revolusi. Reformasi yang didengungkan dulu hanya sampah basi kaum politikus yang menunggangi kekuatan mahasiswa. Ia tak yakin di masa depan negeri ini bisa lebih baik kalau tidak diikuti sebuah revolusi besar-besaran yang bahkan menyamai tragedi berdarah Tiananmen di Cina dulu. “Gerakan reformasi itu sekadar jargon pereda amarah rakyat yang digulirkan politikus pencari keuntungan. Perjuangan belum selesai. Banyak tokoh yang awalnya idealis pelan-pelan akan terbuka kedoknya. Lihat saja nanti, buktikan sendiri beberapa tahun mendatang.” Kalimat itu diucapkan begitu yakin olehnya sampai-sampai aku merinding. Perjumpaan kami terakhir kali itu sebentar saja. Dia sudah dicari kelompoknya, dipanggil, diambil dari sisiku. Sejak itu aku hanya pernah mendengar namanya diselentingkan oleh beberapa mahasiswa lain. Atau di majalah kampus. Juga radio kampus. Kalimatnya tadilah yang membuatku sedikit peduli dengan perkembangan politik negara ini. Sekadar ingin membuktikan kebenarannya. Waktu itu sekitar dua tahun lalu, ketika reformasi sedang gencar dielu-elukan. Kini lebih dari 24 bulan berlalu sudah. Tak pernah lagi namanya terdengar. Ia seperti hilang ditelan bumi.
Satu hal yang membuat ia tampak sedemikian manis adalah karena ia jenis lelaki yang tidak melihat cewek dari sisi fisik semata. Tunggu dulu, bukannya aku jelek atau bagaimana. Susan bilang wajahku sebenarnya cantik lagi manis, hanya aku tidak pernah bisa tampil sesuai sehingga menonjolkan kecantikanku itu. Dari mulai rambut, bedak, model baju, celana dan sepatu harus dirombak total katanya. “Elu mirip boneka Barbie yang dibuang ke tong sampah, terus dipungut anak kampung di kaki Gunung Kidul dan didandani dengan baju dan kosmetik asal-asalan,” begitu ceplos Susan. Alhasil, boneka Barbie itu tidak kelihatan lagi cantiknya, tapi justru norak, ketinggalan zaman. Ditambah lagi katanya sifatku yang kurang percaya diri, pemalu, pendiam, tertutup, tidak peduli dengan sekitar dan bla bla bla. Itulah profil diriku yang kudapat dari hasil orasi Susan.
Tapi aku tetap tidak peduli. Sampai sekarang si cowok pujaan tadi masih terus melekat di hati. Oh ya, namanya Sangkakala Yoga. Dipanggil Oga oleh teman-temannya. Aku lebih suka menyebutnya Sangkakala. “Cuma elu yang manggil gue pake nama depan. Yang laen kadang ngeledekin gue ‘bel rusak’. Sangkakala kan artinya lonceng alias bel,” masih kuingat betul begitu komentarnya waktu aku secara tidak sengaja mengucapkan namanya. Dari dialah aku tahu siapa itu Che Guevara, tokoh yang wajahnya ada di kaus yang kerap dikenakannya. Katanya Sangkakala ingin seperti dia kelak. Membela umat manusia bukan atas batasan negara, melainkan karena persamaan takdir sebagai sesama mahluk Tuhan. Betapa hebatnya idealisme itu.
Dimanakah Sangkakala-ku kini? Sudahkah ia menjadi seperti Che? Ingatkah ia padaku? Biarlah aku tidur. Kita bertemu dalam mimpi.

Sebuah pagi di hari yang lain. Mulai pukul 9.00 teng aku sudah menjelajah dunia maya berkendaraan Firefox. Di sela menekuni Om Google, aku berdiskusi tentang Chekov di milis KutukutuBuku dengan beberaba member lain. Nama id TrixieTheTricky yang kupakai sungguh mujarab. Dalam hitungan jam aku sudah punya beberapa teman di milis ini. Bahkan mereka mengajakku chatting di Yahoo Messenger.
Beruntung PC-ku menghadap ke dinding, membelakangi lorong sekat yang membatasi tiap meja. Dengan begitu tak ada karyawan lain atau bos yang bisa melihat apa yang ada di layar monitor. Semua pekerjaan kulakukan secepat kilat. Beruntung pula kantorku memakai jaringan kabel untuk akses Internet dengan kecepatan tinggi. Begitu tugas pertama tuntas, aku tenggelam dalam diskusi tentang Chekov, Dickens, Pramoedya Ananta Toer sampai Gorky.
Kini aku punya tiga alamat email. Menjadi anggota lima milis. Tapi tidak aktif di semuanya, hanya beberapa yang menarik saja. Dalam sehari aku mengunjungi semua situs berita dalam dan luar negeri, majalah, jurnal, banyak portal yang secara tak sengaja kutemukan di Google.
Mulai banyak teman yang rajin men-japri ke email. Awalnya diskusi formal ihwal karya sastra, kelamaan mulai merambat ke pertanyaan personal seperti kerja dimana, hobinya apa, rumah dimana dan sejenisnya. Semua kujawab tak 100 persen jujur. Selalu kuingat nasihat Susan untuk tak terlalu polos di dunia maya.
Sesuai nasihatnya pula, aku men-scan foto paling tak jelas yang agak terlihat lumayan. Belakangan seorang teman chat mengajarkan dengan teknik fotoshop untuk membuat foto itu jadi lebih menarik. Dengan sedikit kreativitas aku mengganti bagian mata di foto dengan mata Jodie Foster yang tajam. Dengan pic inilah aku terepresentasikan di Internet. Identitasku adalah Trixie, 23 tahun, female, karyawan swasta di divisi Research and Development (RND). Ditambah wawasan luas tentanng sastra, politik, kekakuratan data-data tentang segala peristiwa (ingat, itu kerjaku memang, mencari aneka data yang dibutuhkan orang), musik, seni, sejarah hingga pengetahuan populer lain, jadilah aku teman diskusi yang menyenangkan di dunia maya.
Mereka menyenangkan. Ada yang bilang baru sekarang ketemu cewek cantik dengan pemikiran intelektual yang berwawasan luas. Banyak yang meminta nomor telepon, mengajak bertemu dan sebagainya. Tak satupun kuizinkan. Oh jelas, kalau kita sudah cukup asik berteman tanpa harus tatap muka, untuk apa lagi bersua secara langsung? Dimana lagi letak seninya kalau pertemanan di Internet harus di dunia nyata? Bukankah itu akan membunuh keunikan dari karakter masing-masing? Biarkan saja mereka berimajinasi mengenai seperti apa wajah, tubuh, rambut dan suaraku. Lepaskan saja imajinasi itu meliar, menembus batas ruang dan waktu. Berprinsip pada argumen itu aku berkeras untuk tetap berteman di Internet saja. Bahkan menelepon pun tidak perlu.
“Kamu lelaki mungkin sebenarnya,” begitu kilah seorang dari mereka.
“Up to you. Apa harus ada pertimbangan gender dalam berteman,” balasku.
“Tambah lama saya tambah yakin kamu adalah lelaki. Isi emailmu lebih banya didominasi logika daripada perasaan. Beda betul dengan kebanyakan teman perempuan saya.”
Wah, aku jadi emosi. “Betapa piciknya kamu yang awalnya saya kira berwawasan luas. Apa perempuan tidak boleh punya pemikiran logis lagi rasionil? Semua dari kami harus bermenyek-menyek seperti yang digambarkan dalam sinetron dan telenovela? Kasihan, ternyata hidup kamu dikelilingi perempuan yang didominasi perasaan belaka,” cibirku sengit.
“Nah, sekarang saya percaya kalau kamu perempuan, Trixie.”
Huh, menyebalkan sekali.
Pelan-pelan aku mulai merambah dari satu milis ke milis lain. Perdebatan demi perdebatan. Tidak selalu berujung dengan permusuhan, adakalanya persahabatan. Semuanya membuat hari-hari berlalu begitu cepat. Kantor yang semula adalah neraka dunia kini berubah jadi tempat terasik di jagat raya. Di luar jam kerja aku menyempatkan diri ke warnet. Bahkan terpikir untuk membeli notebook dan berlangganan akses Internet di rumah.
“Dear Leftiman2000, karya Toer memang mau tak mau dipengaruhi sastra Rusia. Kurun waktu dia berkarya adalah periode dimana aliran sastra Rusia yang kekirian cukup mempesona orang seperti dia. Secara politis Toer beraliran kiri walau bukan komunias. Itu bisa kita serap dari kumpulan cerpen berjudul “Cerita dari Jakarta”. Di situ kental sekali gaya tuturnya mengisahkan penderitaan rakyat kecil. Hal sama dilakukan Chekov dan Gorky. Masalah kelas sosial dan penderitaan rakyat kecil kerap diangkat…”
Belum usai kuketik postingan balasan untuk seorang teman, ada suara mengejutkan, “Mbak, maaf, kantor sudah mau tuup. Limabelas menit lagi listrik dipadamkan.” Itu Mas Ato, office boy. Wow, sudah jam berapa ini? Betapa cepat waktu berlaku kalau aku sudah asik dengan Internet. Memang sekitar ruangan sudah sepi, lampu meredup. Kusadari waktu menunjukan hampi pukul tujuh malam. Segera kuselesaikan emailku dan segera mempostingnya.
Baru saja kutekan panel “send” mendadak alert Yahoo Messenger memberitahu ada email baru yang masuk. Email iu bersubyek “Invitation to cecurut@yahoogroups.com”. Pengirimnya Cecurut Maya. Sebuah ID unik, menarik untuk segera dibuka. Isinya sebuah undangan untuk menjadi anggota milis bernama CecurutPintar. Tidak ada keterangan detail milis mengenai apakah itu. Ketika ku-search di Yahoogroups, tak ada sepatahpun kata ihwal milis itu. Oh, itu milis bukan untuk publik. Siapa gerangan yang mengundang? Dari mana dia tahu alamat emailku? Milis apakah itu?
“Mbak Tri, saya bener-bener mau pulang. Pak Satpam di depan sudah marah-marah mau memadamkan listrik di lantai ini,” suara Mas Ato mengejutkanku. Yah, sampai jumpa besok, Cecurut.

“Gue berangkat siang ini, Tri. Tunggu email gue dari Jerman ya!” Suara susan lantang lagi pasti, menandakan keyakinan serta optimismenya menjumpai sang pujaan hati di belahan dunia lain. Orang disekelilingku mengangkat alis. Mereka tak pernah menyangka aku yang pendiam dan kuper ini punya teman secantik Susan. Pagi itu Susan mampir sejenak untuk berpamitan. Pesawatnya akan tinggal landas tiga jam lagi. Jadi semua ocehannya kali ini bukan rekayasa atau khayalan semata. Pacar Internetnya itu sungguhan ada. Tetap saja aku was-was, siapa tau cowok Jerman itu psikopat yang memang gemar menipu cewek-cewek Asia untuk datang ke Jerman, lantas entah apa yang akan dilakukannya di sana. Bisa saja dibunuh setelah diperkosa lalu mayatnya dibuang ke sumur. Bicara soal pembunhan dan Internet, pernah ada film konyol yang berkisah ihwal psikopat yang mengabadikan semua adegan pembunuhannya di sebuah situs. Apakah Susan akan menjadi salah satu pemerannya? Oh, No!
Tapi Susan tetap Susan. Dia justru menasihatiku untuk mengikuti jejaknya. Ia meyakinkan bahwa di luar sana banyak orang yang tidak menilai manusia dari penampilan fisik semata. Itulah yang kusuka dari Susan. Ia termasuk jenis manusia macam itu.Untuk mengikuti nasihatnya, tunggu dulu. Aku bukan jenis pembebek yng bisa dengan gampang menelan ide orang lain. Thanks, San.
Sesudah seremonial simple itu aku kembali tepekur ke serat kubikku. Tanpa peduli dengan orang sekitar yang sepertinya bergumam atau berkomentar entah apa. Persetan saja. Selama mereka tidak membicarakan masalah pekerjaan, rasanya tak ada yang perlu kusimak baik-baik.
Ada sejumlah tugas yang harus segera dirampungkan. Biografi sejumlah menteri, data statistik penerita AIDS tingkat global dan nasional. Aku juga harus menghubungi orang WHO berkenaan dengan data terkini yang mereka punya karena di website-nya menunjukan data terakhir masih tahun 2002. Sesekali aku mencuri waktu mengunjungi beberapa milis. Hei, Cecurut! Bagaimana aku bisa dengan milis yang baru semalam mengundangku?
Setelah di-approve, aku resmi jadi member Cecurut. Ada email sambutan. “Selamat bergabung dengan komunitas kami. Ini adalah milis khusus bagi mereka yang percaya bahwa dunia maya bisa lebih hebat dari dunia nyata. Kami bukan orang ‘nerd’ atau ‘freak’, apalagi psikopat. Jika ingin berubah pikiran untuk keluar dari milis ini, silakan saja. Yang jelas semua yang ada di sini harus setuju dengan manifesto kami. Silakan klik http://manifesto.com dan simak segalanya dari situ.”
Cheers,
CecurutPintar
Belum sempat kuklik URL tadi, telepon berdering. “Segera ditunggu data AIDS-nya oleh Ibu Sisca,” ujar suara di seberang.
“Belum ada jawaban dari WHO Indonesia. Data terakhir masih dua tahun yang lalu,” jawabku.
“Segera cari! Buat itu kan kamu digaji?” Telepon dibanting dari seberang. Betul-betul aku jadi cecunguk di kantor ini! Jadi ingat perkataan Sangkakala dulu. Negeri ini tidak akan banyak alami perubahan selama tidak ada revolusi. Kalau sempat kusanggah kini, maka revolusi itu bukan hanya harus dilakukan pada bidang politik, melainkan juga revolusi otak. Manusia cenderung memandang rendah manusia lain berdasar jabatan, fisik dan materi. Itulah yang butuh direvolusi.
Kabar yang sempat hinggap di telinga, Sangkakala pernah mendekam di penjara akibat tuduhan subversif. Setelah itu bebas begitu saja entah mengapa. Selentingan mengatakan ada kalangan tertentu yang membebaskan ia dengan beberapa syarat kompromi. Selebihnya aku tak tahu pasti. Terakhir kata Susan, Sangkakala masih harus menyelesaikan kuliah karena ancama drop out dari kampus. Ia kini bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan yang entah pula apa namanya. Andai Susan masih di Jakarta pasti bisa kumintai tolong melacak jejak Sangkakala. Sudahlah, barangkali memang ditakdirkan aku mencintai lelaki yang tak bisa kugapai.

Jam menunjuk pukul 16.32. Dua puluh delapan menit lagi sebagian penghuni kantor akan bergegas pulang. Sebagian lagi masih akan asik masyuk di depan komputer dan memanfaatkan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi. Aku sendiri baru bisa mulai bersaintai sediit. Seharian ini nyaris tak ada waktu luang ber-browsing-ria. Pagi dikejar tugas. Siang makan sebentar, disusul rapat hingga jam 15.00. Setelah itu kembali dibombardir pencarian data, mengklasifikasi data, mengumpulkan daftar judul tulisan kontributor. Belum apa-apa, sebab di sela semua ketegangan itu sempat ada beberapa caci maki extra kalau aku melakukan kesalahan kecil.
Dan inilah waktunya untuk bersantai sejenak. Melepaskan diri dari belenggu pekerjaan memuakan di dunia nyata. Ah ya, situs manisfesto. Apa pula itu?

The following was written shortly after my arrest…

\/\The Conscience of a Hacker/\/

by

+++The Mentor+++

Written on January 8, 1986
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Another one got caught today, it’s all over the papers. “Teenager
Arrested in Computer Crime Scandal”, “Hacker Arrested after Bank Tampering”…
Damn kids. They’re all alike.

But did you, in your three-piece psychology and 1950’s technobrain,
ever take a look behind the eyes of the hacker? Did you ever wonder what
made him tick, what forces shaped him, what may have molded him?
I am a hacker, enter my world…
Mine is a world that begins with school… I’m smarter than most of
the other kids, this crap they teach us bores me…
Damn underachiever. They’re all alike.

I’m in junior high or high school. I’ve listened to teachers explain
for the fifteenth time how to reduce a fraction. I understand it. “No, Ms.
Smith, I didn’t show my work. I did it in my head…”
Damn kid. Probably copied it. They’re all alike.

I made a discovery today. I found a computer. Wait a second, this is
cool. It does what I want it to. If it makes a mistake, it’s because I
screwed it up. Not because it doesn’t like me…
Or feels threatened by me…
Or thinks I’m a smart ass…
Or doesn’t like teaching and shouldn’t be here…
Damn kid. All he does is play games. They’re all alike.
And then it happened… a door opened to a world… rushing through
the phone line like heroin through an addict’s veins, an electronic pulse is
sent out, a refuge from the day-to-day incompetencies is sought… a board is
found.
“This is it… this is where I belong…”
I know everyone here… even if I’ve never met them, never talked to
them, may never hear from them again… I know you all…
Damn kid. Tying up the phone line again. They’re all alike…

You bet your ass we’re all alike… we’ve been spoon-fed baby food at
school when we hungered for steak… the bits of meat that you did let slip
through were pre-chewed and tasteless. We’ve been dominated by sadists, or
ignored by the apathetic. The few that had something to teach found us will-
ing pupils, but those few are like drops of water in the desert.

This is our world now… the world of the electron and the switch, the
beauty of the baud. We make use of a service already existing without paying
for what could be dirt-cheap if it wasn’t run by profiteering gluttons, and
you call us criminals. We explore… and you call us criminals. We seek
after knowledge… and you call us criminals. We exist without skin color,
without nationality, without religious bias… and you call us criminals.
You build atomic bombs, you wage wars, you murder, cheat, and lie to us
and try to make us believe it’s for our own good, yet we’re the criminals.

Yes, I am a criminal. My crime is that of curiosity. My crime is
that of judging people by what they say and think, not what they look like.
My crime is that of outsmarting you, something that you will never forgive me
for.

I am a hacker, and this is my manifesto. You may stop this individual,
but you can’t stop us all… after all, we’re all alike.

+++The Mentor+++

Wow, sungguh sebuah manifesto mengagumkan. Membacanya membuatku lebih merinding daripada menyimak teks proklamasi kemerdekaan atau Pembukaan UUD 45. Bahkan lebih menggejolak ketimbang mendengar Nikka Costa melantunkan First Love di zaman SMP dulu. Seperti sebuah representasi, perwakilan dari apa yang selama ini ingin keluar dari isi kepala dan hati tapi tak tahu bagaimana mengungkapnya. Ibarat pernyataan cinta dari seorang lelaki yang sudah lama kutunggu.
Yes, I am a criminal. My crime is that of curiosity. My crime is
that of judging people by what they say and think, not what they look like.
My crime is that of outsmarting you, something that you will never forgive me
for.
Simak betapa dahsyatnya kalimat-kalimat itu. Selama ini orang selalu menilai dari apa yang mereka lihat, bukan mereka katakan dan pikirkan. Itulah yang kubenci. Apa salahnya dengan menilai orang secara sebaliknya? Itulah yang selalu kulakukan, berharap orang lain juga melakukannya di dunia nyata. Tapi tak pernah kudapat. Di dunia maya lah semua berlaku sebaliknya. Tak peduli seperti apa fisikmu, warna kulitmu, agamamu, rasmu. Kau adalah manusia di balik keyboard yang mengetikkan kata demi kata yang merepresentasikan pikiranmu.
We exist without skin color,
without nationality, without religious bias… and you call us criminals.
You build atomic bombs, you wage wars, you murder, cheat, and lie to us
and try to make us believe it’s for our own good, yet we’re the criminals.
Mengapa semua itu harus dituduh sebagai sebuah kejahatan? Bukankah pemikiran rasialis materialis lah yang justru serangkaian kriminalitas sepanjang sejarah umat manusia di muka bumi? Oh God, I really like these ideas! Siapa itu The Mentor? Ia bahkan sudah membuat manifesto itu tahun 1986! Tahun itu aku masih sibuk bermain layang-layang atau membaca majalah Bobo. Bahkan tak pernah bermimpi akan ada temuan bernama komputer atau Internet.
Biarkan aku bergabung dengan The Mentor dan teman-temannya! Aku benci dunia nyata yang menjijikan ini. Betul kata Susan, manfaatkanlah Internet. Tapi pemikiranku beda dengan satu-satunya sahabatku di dunia nyata itu. Ia boleh saja memakai Internet sebagai jalan mendapatkan koneksi ke luar negeri untuk memperbaiki nasib. Tidak, sama sekali berbeda. Tidak akan pernah kumanfaatkan dunia maya tercinta ini untuk lari ke belahan dunia nyata lainnya. Justru aku ingin melebur ke dalamnya. Menyatu. Sampai tak perlu lagi berurusan dengan dunia nyata. Selamanya. Thanks, Susan. Kamu sudah memperkenalkan aku dengan dunia ini! Yeah, this is my world!

Tidak ada yang lebih membuatku semangat daripada berangkat ke kantor. Kini aku berangkat satu jam lebih awal. Maka saat menginjakkan kaki ke kantor, yang kujumpa hanya petugas cleaning service yang masih sibuk bersih-bersih atau office boy yang memunguti gelas kotor. Kutekan tombol “Power” pada CPU. Monitor kunyalakan. Internet di sini terkoneksi 24 jam non stop dengan ADSL. Yahoo Messenger secara otomatis langsung aktiv. Ada alert 4 email baru di Inbox. Tiga email dari milis Kutukutubuku, satu dari Cecurut. Menarik. Kuklik email Cecurut bersubject “Joint us at mIRC”. Isinya ajakan untuk ikut masuk dalam chat room mIRC. Aku jadi tersenyum sendiri ingat Susan yang mengajariku pertamakali chatting di mIRC. Bedanya kali ini channel yang dipakai adalah #CurutHack. Kubuka situs http://www.mirc.com, lantas menginstalnya ke PC. Proses berjalan cepat, kemudian muncul aikon mIRC yang khas itu di layar monitor.
Dengan lincah jariku menari di atas keyboard dan mouse. Ketikan nickname, email palsu, nickname alternativ, lalu pilih server Dalnet. Dan klik panel “Connect to Server”. Masuklah aku ke channel #CurutHack. “Welcome 2 this room. This channel operated by bot. This is a restricted area. Don’t invite anybody you don’t know well, ‘cuz we don’t like spy.” Hmm, sambutan yang lumayan menarik. Menandakan chatter di sini memang orang-orang pilihan. Ada setidaknya 200-an nickname di channel itu. Aku pakai nama Trixie^-^ sebab tak ada ide untuk pakai nama lain. Percakapan di channel lumayan meriah.
Hi all, how r u?
Hi 2, Trixie. Fine here.
Hi juga Trix. Baru gabung ya?
Yup. Siapa ya yg invite aku ke sini?
Bot lah pasti. Semua miliser baru pasti otomatis diajak ke sini.
Just wanna know, r u all hackers?
hehehe
???
Tak ada jawaban. Kemudian di taskbar sebelah kiri ada nickname merah berkedip. Seseorang mengirim PV.
hi
hi juga, asl pls
24 m jkt, u
23 f jkt
what u know about hacker, Trix?
not much.Just read the manisfesto.That’s great.
apa yang kamu dengar orang bilang tentang hacker?
hmm…yg jelek2 pastinya.Tukang acak program PC.Bobol jaringan.Kind like that…
u trust them?
not really.semua tindakan pasti ada alasan.
nice answer! Like it!
ups, sorry sandman, saya di kantor sekarang, Ngga berasa udah jam 8. Mulai rame kantor.
kamu kerja?di bagian apa?
RND staf
cool.ngga banyak orang seberuntung kamu!
kamu gimana?kerja?kuliah?
ngga dua2nya.
justru enak.Ngga kerja, ngga kuliah, bisa tetap dapet akses net
hehe
who invite me 2 the milis ya?
dunno.mereka invite siapa aja yg aktiv di banyak milis.mungkin salah 1 temenmu.
temenku di net lebih banyak daripada di real world.
really?why?
orang di net lebih asik daripada di real world.
kenapa bisa gitu?
entah.aku juga heran.
Kantor benar-benar mulai ramai. Atasanku berjalan ke arah mejaku. Hatiku berdebar kencang. Layar mIRC sudah di-minimize, tetap saja aku takut ia tahu apa yang kulakukan.
“Mana kerjaan kemarin?” Tangannya menjulur ke wajahku. My God! Data CITES itu belum ku-print out! Cepat kubuka disk C, kucari di folder kemarin. Thanks God data file itu aman di sana.
“Triana, kamu sudah kerjakan tugas kemarin?”
“Su..sudah bu, hanya belum di-print out.Sebentar saya print,” aku bergegas ke printer di ujung ruangan. Hatiku berdegup kencang, takut perempuan gendut itu melihat layar monitorku. Aku bekerja seperti orang gila. Printer itu bekerja lama sekali. Tidak, atasanku mengamati meja kerjaku, lalu tangannya seperti sibuk melakukan sesuatu. Aku seperti membeku di depan printer yang jaraknya sekitar 10 meter dari komputerku. Cepatlah ia pergi dari sana, biar kuantar data itu nanti ke ruangannya, begitu batinku. Kertas hasil print mulai keluar satu demi satu. Atasanku tak jua beranjak dari sana. Kini kepalanya melongok ke layar komputer! Apa dia membuka program mIRC?Membaca pesan Sandman2500? Aku akan segera dimarahi! Yeah, dia menuju kemari! Dengan mata membelalak seperti beruang lapar melihat mangsa. Aku hanya rusa kurus kecil tak berdaya di depan mesin printer sialan ini.
“Kalau sudah, segera antar ke ruangan saya!” Suaranya menggelegar bagai petir menyambar. Syukurlah ia tak menyebut tentang mIRC. Baru aku bisa bernapas lega. Aku berlari ke mejaku. Kulihat nama Sandman mengedip-ngedip merah.
r u there?
sorry berat, tadi bosku kemari.aku harus mem-print out kerjaan dulu. BRB!

Sejak kembali aktif di chat room mIRC, pekerjaanku banyak yang tertunda. Mencari data kulakukan sekaligus dengan chatting di mIRC, Yahoo Messenger, membuka milis, email, browsing, mengangkat telepon, menyusun statisik, dengar musik. Jam makan siang semuanya tetap kulakukan, hanya dengan tambahan aktivitas menyendokkan maanan ke mulut.
Betapa mengasyikan berteman dengan mereka para Cecurut ini. Aku juga sudah mejadi bagian dari mereka. Pelan-pelan aku jadi tahu apa itu hacker, Open Source, Free Software, dan sejenisnya. Beberaa mencoba mengajariku bagaimana menembus jaringan komputer, membobol email dan server. Sayang aku tak punya waktu luang untuk mencobanya.
Yang menarik dari kaum Cecurut adalah prinsip mereka yang menyatakan bahwa semua informasi harus bisa didapat gratis oleh siapa saja. Ini adalah bagian dari kode etik hacker yang disarikan dari buku “Hackers: Heroes of The Computer Revolution” karya Steven Levy terbitan tahun 1984. Aku juga sangat setuju pada prinsip bahwa akses ke sebuah sistem komputer, dan apap saja yang dapat mengajarkan mengenai bagaimana dunia bekerja, haruslah tidak terbatas sama sekali. Tidakkah ini memang keadilan bagi semua orang? Terlebih pada aku yang memang bekerja mencari data dan informasi? Bisa dibayangkan betapa menyebalkan kalau kita harus terbentur pada prosedur formal saat memerlukan sejumlah data penting untuk keperluan referensi jurnalistik. Tidak cukup hanya mengangkat telepon, berbasa-basi. Sering aku harus dioper dari satu nomor telepon ke nomor lain, kemudian diberi nomor faksimili, diharuskan menulis surat proporsal kepada Tuan Anu, baru kemudian menunggu jawaban, mengangkat telepon lagi dan menunggu lagi. Luar biasa peliknya proses yang harus kulakukan demi mendapat kadang selembar data saja dari suatu instansi. Padahal, siapa sih yang mau memanfaatkan data remeh seperti itu untuk tujuan negatif? Seperti data statistik peserta vaksinasi cacar per wilayah di Indonesia. Amit-amit susahnya untuk diminta. Kalau dipikir, apa sih vitalnya data seperti itu? Memangnya keamanan negara akan terancam kalau data sialan tadi tersebar ke publik?
ambil saja data yang kita butuhkan tanpa minta izin
bukankah itu namanya mencuri?
mencuri adalah kalau data mereka jadi hilang karena kita ambil. Ini tidak. Kita hanya men-copy saja. Tak ada yang dirugikan.
hmmm betul juga. Masalahnya, ngga semua data instansi di Indonesia ini tersimpan di komputer. Lebih banyak di dokumen cetak.
tidak semua. Ada yang sudah terkomputerisasi.
Betul, semua data dan informasi memang harusnya tidak dibatasi. Kalau kita berhasil membobolnya lalu men-copy-nya, maka itu bukan pencurian. Tak ada yang dirugikan. Apalagi kalau teknik yang dipakai untuk menerobosnya sama sekali tak merusak program apapun. Lalu, mengapa hacker sering dikambinghitamkan sebagai pelaku aneka kejahatan di komputer? Padahal Richard Mansfield dalam tulisannya di Hacker Attack,definisi hacker adalah orang yang memiliki keinginan untuk melakukan eksplorasi dan penetrasi terhadap sebuah sistem operasi dan kode komputer pengaman lainnya, tetapi tidak melakukan tindakan pengrusakan apapun, tidak mencuri uang atau informasi. Jadi tak ada salahnya kalau kami menerobos suatu sistem keamanan, melihat sebentar apa yang ada di dalamnya, kemudian keluar lagi. Tidak, aku tidak akan mencuri apapun.
Kian banyak kusimak mengenai kaum yang menamakan dirinya sebagai The Undergrounder ini, kian muncul rasa salut. Salah satu nama yang kusaluti tiada habis adalah Richard Matthew Stallman alias RMS. Lelaki kelahiran 16 Maret 1953 itulah yang pertamakali merintis ide gerakan free software yang diberi nama GNU Project. RMS menggalakkan kampanye politik penggunaan software bebas biaya lisensi. Ia juga yang menulis Hacker’s Dictionary yang sayang tidak kutemui di toko-toko buku di Jakarta.
Dari semua tulisan di situs-situs luar kutangkap bahwa hacker sangat berbeda definisinya dengan yang ada di berita. Hacker sepengertianku adalah orang-orang yang terus mengembangkan program komputer tiada henti berdasar prinsip “portable software”. Yang terakhir ini adalah ide dari Stallman juga untuk mencipakan software yang bisa dipakai pada beragam jenis komputer. Orang yang terus memperbarui dan memodifikasi program, mengeksploitasi sistem keamanan, mengujicobanya, itulah yang mereka sebut hacker. Kalapun ada kasus kriminal seperti carding, merusak sistem dan mencuri data, maka itu hanya sebagian kalangan hacker yang berkarakter negatif.
Uniknya, tiap kali ditanya mereka tidak pernah mau mengaku dirinya sebagai hacker. Lebih suka dibilang sebagai “computer freak”, “nerd” atau “programmer” saja.
bukan. Saya cuma suka ngoprek kompi aja.”
pengen sekali dibilang hacker. Tapi sebutan itu cuma pantes buat Torvalds, Stallman dan barisannya. Kami sih cuma cecurut. Gates sebenernya juga hacker, hanya dia sudah komersil, jadi borjuis. Hacker borjuis, hahaha!
Lama sekali aku tak dengar istilah borjuis disebutkan. Kapan ya pernah kudengar seseorang menyebutkannya? Sangkakala. Ya, dia kerap sekali mengutarakan istilah-istilah seperti borjuis, kapitalis, sosialis dan revolusi. Di dunia maya revolusi itu tak pernah terjadi. Namun di sini, di Internet, pelan-pelan revolusi berlangsung, tidak kenal batas negara. Inilah revolusi digital, dengan tujuan menumbangkan dominasi keangkuhan birokrat, kapitalis seperti Gates, dan karakter manusia yang paling kubenci, yakni menilai segala sesuatu dari tingkat jabatan, kondisi fisik dan fashion.
Revolusi di dunia nyata memang sangat sulit karena terlalu banyak yang harus ditumbangkan. Belum lagi militer bersenjata, kekuatan politik dengan pendukung massa yang gelap mata. Diperkuat lagi dengan aturan hukum yang bisa dengan mudah menjerat siapa saja. Pengkotak-kotakan dunia atas nama negara memang seolah sengaja dibuat untuk mengukuhkan kedudukan raja-raja kecil di tiap wilayah. Inilah yang tak ada di dunia maya. Tak ada hukum, polisi, militer, raja, massa yang marah, atau senjata. Di sini setiap manusia hanya diwakili oleh nickname, alamat email, foto diri yang bisa dimanipulasi seenak perut, dan tentu saja kepiawaian teknis dan komunikasi. Begitu kau masuk ke dalamnya, berbaur dalam komunitas ini, maka kau ada. Kau diakui. Tak peduli ras, agama, jabatan, kekayaan materi, juga apakah gaya berpakaianmu cukup fashionable atau ketinggalan zaman. Yang membuatmu diakui di sini bukan itu semua, melainkan seberapa mahir kau berkomunikasi, membagikan informasi. Bagi mereka yang memang “computer freak”, jago membuat program , mengoprek PC, itu lebih mudah lagi. Aku belum sehebat itu. Jadi modalku hanya rasa keingintahuan.
Milis CecurutHack itu lebih banyak berisi posting tentang pertanyaan teknis seperti bagaimana menginstall Red Hat, meng-up grade program lama dan sejenisnya. Aku benar-benar buta pada itu semua sampai ketika suatu saat seorang teman menjelaskan. Pada dasarnya milis ini merupakan forum bagaimana para programmer, ahli keamanan jaringan serta para pengoprek komputer lainnya saling berbagi pengetahuan, pengalaman, juga ide-ide cemerlang. Seperti saat Croc0dilluz menemukan cara paling aman mengeset Firewall versi baru yang dikembangkannya, Juga bagaimana menemukan kembali password email yang dicuri orang. Ada juga kenakalan seperti bagaimana membuat nomor Internet Protocol (IP) tak bisa terlacak saat chat di mIRC, mengakali teman chat, dan sejenisnya. Perlahan aku jadi tahu sedikit tentang apa itu SQL Injection, mencari vulner dalam sebuah website, pokok-pokok deface alias mengganti tampilan website. Semuanya berjalan begitu saja. Tanpa perlu formalitas rumit, merogoh kocek, semuanya serba gratis. Informasi dan ilmu itu mengalir, merangsek ke dalam otak juga benak. Memang menurut para penganut aliran teknorealis, Internet tidak bisa disamakan dengan bangku sekolah. Segala informasi yang bisa kita reguk dari dunia maya tak bisa disamakan dengan pendidikan formal. Tetap saja orang butuh sekolah, sebab sekolah itu sendiri bukan semata arus ilmu serta informasi yang mengalir deras. Ada juga golongan yang agak antiteknologi, selalu menuding hal-hal buruk mengenai kebebasan informasi. Internet dituding sebagai media yang hanya memperlancar arus pornografi, terorisme, pembunuhan karakter, fitnah, banyak lagi. Belum lagi kasus cybercrime yang banyak menyalahkan para pengoprek program komputer.
Bagiku, Internet adalah dunia sarat informasi, pengetahuan, data, teman-teman baik hati yang sudi membagi ilmu tanpa pamrih. Hobiku membaca buku pun bisa tersalurkan di dunia indah ini. Banyak literature yang bisa dibaca tanpa mengeluarkan sepeser rupiahpun. Informasi ini juga kudapat dari teman dunia maya.
Kamu suka baca?
Suka banget!
Banyak buku yang bisa di-download gratis di net.
Really? Dimana aja?
Check it out. http://www.underground-book.com dan http://www.rheingold.com .Hope u like it 
Mulanya aku tak percaya ada orang yang mengiklaskan tulisannya dibaca cuma-Cuma. Bukan tulisan asal jadi, melainkan buku-buku yang juga dicetak, diterbitkan, dijual secara komersil. Mereka membuat versi elektroniknya, bisa diakses bebas oleh siapa saja, di-download, digandakan, diprint-out, dibaca begitu saja. Bahkan siapa tahu buku itu digandakan besar-besaran lalu dijual kembali di luar sana? Tapi si penulis murah hati itu sungguh tak peduli. Sungguh konsep copyleft yang luar biasa.
Suellete Dreyvus, penulis Underground tidak menulis buku tersebut hanya berdasarkan khayalan belaka. Ia membutuhkan waktu tiga tahun untuk riset, menulis dan mengedit buku yang nyaris setebal 500 halaman itu. Namun ia dengan sedemikian murah hati mengizinkan siapa saja membacanya dengan gratis di Internet. Apa pasal? “Bagian kegembiraan dari menciptakan seni adalah agar bisa dinikmati banyak orang. Tidak semua orang bisa mengeluarkan uang 11 dolar AS untuk membeli sebuah buku. Tidak terkecuali para hacker. Buku ini tentang mereka, hidup mereka, dan obsesinya. Undergound ini milik dunia maya,” begitulah Dreyvus berargumen mengapa ia mengratiskan saja buku yang dibuatnya dengan susah payah itu. Ia bahkan mengaku cukup bangga ketika seorang teman berkisah melihat ada pemuda yang membaca buku Underground dalam versi print-out kasar dari komputer di atas bis. Itu menandakan bahwa buku Dreyvus memang diminati banyak orang kendati orang itu tak harus membelinya. Ia juga merelakan saja kalau tulisannya itu digandakan, dicetak dan dikirim atau bahkan dijual ke orang lain. Dreyvus juga tak peduli dikritik dan disebut subversif.
Menghadirkan buku-buku konvensional dalam bentuk data elektronik merupakan misi dari sebuah proyek bernama Proyek Guttenburg. Di sini mereka meng-elektronik-kan banyak sekali buku yang selama ini dijual komersil di dunia nyata. Proyek Guttenburg memungkinkan orang yang suka membaca tak harus merogoh kocek untuk membeli buku bermutu. Tentu saja ini sebuah pencerahan bagi kutu buku maniak seperti aku. Tahu sendiri kan, di Indonesia harga buku masih bisa dikatakan relatif mahal. Apalagi buku-buku impor. Bisa bangkrut dalam sekejap kalau aku harus membeli semuanya. Sayang, tidak semua buku yang bagus sudah bergabung dengan Proyek Guttenburg.
Beda dengan kebanyakan buku tentang teknologi informasi yang berdedar di toko-toko buku Indonesia, buku karya penulis luar jauh lebih komunikatif dan beragam temanya. Buku teknologi di Indonesia mayoritas adalah model buku “how to” yang sarat dengan petunjuk teknis seperti bagaimana mengaplikasi jaringan Warnet, membangun jaringan komputer kantor, cara membuat website dan sejenisnya. Buku seperti karya Dreyvus tadi lebih menyoroti interaksi manusia dengan teknologi dalam hidup sehari-hari.
Dear Trixie,
Benar memang kalau buku-buku IT kita lebih teknis sifatnya. Ini disebabkan masyarakat kita memang masih dalam taraf pembelajaran teknis. Jadi jangan salahkan kalau lebih banyak buku jenis “how to” di luar sana. Kelak suatu saat akan lahir buku-buku seperti yang kamu maksud.
Cheers,
Morph3us.
Mungkin memang begitu kenyataannya, Morp.
***

Pernahkah kau mengalami semacam penglihatan ke masa depan? Percaya atau tidak, itulah yang tak sengaja kualami. Malam setelah pikiranku berkecamuk dengan revolusi di dunia maya dan nyata, aku mengalami mimpi aneh. Sangkakala datang menemuiku di mimpi itu. Sosok yang sudah lama tak kujumpa. Sosok yang isi kepala dan pemikirannya lebih melekat di hatiku ketimbang keindahan fisiknya. Sosok yang datang pergi sesuka hati.
Aku sedang berdiri di tengah gurun pasir, diterpa kehausan luar biasa. Dari jauh kulihat oase menunggu minta diteguk. Berlari kumenuju ke sana. Di situlah kujumpai cowok dengan kaus bergambar Che Guevara. Kepalanya diikat dengan kain putih bertuliskan REVOLUSI warna merah. Sangkakala. Ia tersenyum. Tapi bisa jelas kulihat di tangannya yang terkepal ke belakang memegang pisau. Dan pisau itu dihunuskan padaku. Mimpi aneh. Wajah cowok itu tak jelas betul, namun aku yakin ia Sangkakala.
Esoknya, dalam perjalanan pulang ke rumah saat menunggu bus di halte, muncullah ia. Seperti sebuah fantasi, cerita di novel picisan atau komik lucu saja. Malamnya bermimpi, esoknya bertemu. Hanya di dunia nyata Sangkakala tidak mengenakan kaus Che. Tanpa ikat kepala pula. Ia berkemeja biru tua rapi dengan celana kain hitam. Rambutnya juga rapi. Di bahu tergantung ransel. Tipikal karyawan kantoran yang masih mau tampil ala mahasiswa.
Aku sama sekali tak menyangka ia adalah Sangkakala. Sampai kemudian ia menghampiriku dengan tatapan berkerut, menambah matanya yang memang sudah menjorok ke dalam kian lenyap saja.
“Tri?” Ia menyebut namaku ragu-ragu. Aku terhenyak dari lamunan. Siapa memanggilku di tengah kerumunan penunggu bis? Aneh ada orang yang mengenalku. “Tri, anak sastra angkatan 1997, kampus Depok?” Kembali ia memastikan identitasku. Oh, bagaimana mungkin aku melupakan cowok satu ini? Satu-satunya cowok yang pernah kumimpikan seumur hidupku!
“Sangkakala!” Aku terpekik pelan tak percaya. Kami berdua pun tertawa bersama.
“Ngga salah lagi! Cuma kamu yang manggil aku pakai nama itu!” Ia menunjuk wajahku. Hati ini girang bukan kepalang. Ia ingat namaku! Ia bahkan ingat kebiasaanku! Ia yang popular, banyak teman, digandrungi cewek sekampus, aktivis terkenal. Bagiku ini seperti kehormatan. Luar biasa. Aku tak mampu berkata-kata lagi.
“Kamu kerja, Tri? Dimana? Dekat sini?” Ia memberondongku. Aku hanya tersenyum mengangguk-angguk seperti petani miskin berpakaian compang-camping yang disapa presiden. Terbisu dikunci kebahagiaan tak terkira.
“Kerja dimana?” Kurasakan tangannya sedikit mengguncang bahuku. Barangkali ia gemas, kesal karena aku tak jua menjawab pertanyaan. Kubernarkan kacamataku yang melorot ke bawah hidung. “Di situ,” kutunjuk gedung besar di seberang sana.
“Wow, di situ? Di lantai berapa? Bagian apa?”
“Lantai 5, staf litbang,” kujawab cepat.
“Hebat, hebat, “ Sangkakala menepuk-nepuk pundakku seperti seorang guru memuji muridnya.
Aku masih terpaku tak percaya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami. Sangkakala seperti berteriak ke arahnya. “Sorry Tri, jemputan datang. Besok-besok ketemu lagi ya!” Ia pun bergegas meninggalkanku. Masuk ditelan mobil tadi. Pergi. Hilang begitu saja. Senyumku pelan-pelan memudar menjadi lamunan. Begitu cepat pertemuan itu lalu berpisah begitu saja. Lantas apa arti mimpiku semalam? Pisau itu? Ikat kepala REVOLUSI itu? Tak ada. Mungkin hanya karena aku selalu terpaku pada satu laki-laki. Sangkakala.
Sejak itulah setiap hari aku celingukan di tempat pertemuan tak sengaja dengan lelaki itu. Mirip maling jemuran yang memeriksa apakah ada pakaian yang layak dicuri. Kadang aku berlama-lama di pinggir trotar itu, berpanas-panas di pagi hari sewaktu baru datang. Sorenya kembali menengok kiri kanan mirip jerapah mencari dahan untuk dimakan. Malamnya selalu saja sulit pejamkan mata mengkhayalkan sosok Sangkakala-ku. Sungguh kebodohan tiada tara.
Dear Tri,
Gue kasihan banget sama elu. Tapi akan gue usahakan cari info tentang cowok itu. Kebetulan gue ikut milis alumni kampus. Elu sih dari dulu gue ajak ikut ngga pernah mau. Sekarang, giliran ada masalah begini, gue juga yang elu repotin. Tapi gue jadi bingung, mesti nanya gimana sama anak-anak milis tentang dia? Dari dulu kan gue memang ngga pernah akrab sama dia. Kayaknya kenal juga ngga deh. Gue tau dia ari elu sama beberapa bulletin kampus tempat dia biiasa nulis atau jadi tokoh berita.
Kabar gue di sini asik-asik aja. Mark cinta mati sama gue. Di sini gue iseng kursus bahasa Jerman sambil jadi tukang edit naskah Karl, temen Mark yang nerjemahin buku-buku penulis Jerman ke bahasa Inggris. Gile, bahasa Inggrisnya kacau balau Tri. Masih mendingan gue kemana-mana.
Gue seneng lu udah mulai banyak temen di net. Saran gue sih lu ikutin jejak gue. Kan enak kalo lu bisa memperbaiki nasib dengan dapet cowok bule. Sekere-kerenya mereka, masih lebih baik ketimbang cowok Indonesia. Udah dulu Tri, gue harus kursus dulu ya. Gue doain lu ketemu cowok oke. Biar lu bisa ngelupain Sangkakalalalalala yang ngga jelas itu.
Okay, good luck, sista!
Kiss and hug,
Suzan

Bab II: Rutan Sementara Polda Metro Jaya, 2004
Udara terasa lembab. Selembab tubuh dan rambutku yang entah sudah berapa lama tidak tersentuh sampo. Memang dasarnya sudah lepek ya tambah kucai saja. Mirip bulu kucing tercebur got, disiram air panas lalu dijemur matahari dan kembali terguyur comberan.
Kesunyian bukan apa-apa. Memang aku ditakdirkan menjadi manusia dengan kemampuan menutup mulut luar biasa. Kesepian adalah rutinitas biasa saja. Bukan kesepian atau kesunyian yang membunuhku, namun justru kehampaan itu sendiri. Dibatasi empat dinding, beberapa jeruji besi berkarat, mereka boleh menahanku secara fisik. Tapi tidak secara mental. Kita lihat saja siapa yang mampu bertahan paling lama. Aku atau mereka?
Sudah hari ke-2 sejak aku dijemput dari rumah. Nenek shok luar biasa melihat ada polisi mengetuk pintu. Disangka ada famili kecelakaan atau apa. Lebih shok lagi begitu polisi mengeluarkan surat penahanan. Kasihan, nenek satu-satunya yang kupunya di dunia ini. Dia tidak percaya dengan semua dakwaan polisi. Tentu saja, siapa yang bisa percaya? Cucunya sematawayang ini selama ini hanya seorang cewek pendiam, tertutup, kuper, tidak banyak tingkah. Tiba-tiba saja polisi datang, menuduh cewek pemalu itu sebagai otak dari sekian banyak kasus kriminal. Siapa bisa percaya?
Lebih lucu lagi kalau dikisahkan bagaimana ekspresi para polisi yang datang menjemput saat aku mengaku sebagai Trixie.
“Jangan main-main Mbak, kami serius. Tidak ada waktu untuk bercanda,” gertak salah satu yang berpakaian preman.
“Saya ngga bercanda, Pak. Di rumah ini cuma ada saya dan nenek saya. Sayalah yang bernama Trianawati. Ini KTP saya sebagai bukti,” kusodorkan benda itu. Empat orang petugas itu memandangiku dengan mata melotot dari ujung ubun-ubun sampai kuku jempol kaki. My God, memangnya aku harus berpenampilan seperti apa? Bagaimana sih fantasi mereka ini tentang profil Trixie The Tricky? Memakai bikini merah menyala ala pemeran Baywatch?
Surat penahanan itu beralasan bahwa Trianawati adalah tersangka menjadi pimpinan beberapa kasus kriminal di Internet. Merusak situs resmi pemerintah dan sejumlah BUMN. Sangkaan lain adalah menjadi otak beberapa kasus carding dan phising. Mau tak mau aku tertawa geli. Menjadi otak? Mereka pikir teman-temanku tak punya otak sendiri?
Kabarnya polisi sudah menyimpan semua jejak log in pada situs-situs yang jadi korban deface. Semua mengarah ke satu nomor Internet Protocol (IP), yakni sebuah warnet. Setelah melalui investigasi cukup lama, dicek tanggal, jam hingga menit, terlacaklah identitas email pelakunya. Dikatakan di beberapa media, sang hacker sempat melakukan spoofing ke beberapa nomor IP di luar kota, tapi akhirnya terlacak jua jejaknya. Ayolah, semua jejak itu memang tak perlu dihapus sebab tak ada niat menjadi buronan. Deface itu kulakukan hanya sebagai peringatan pada mereka. Beberapa waktu sebelumnya aku bersama teman-teman lain sudah mengirim email ke institusi tersebut bahwa mereka punya “hole” pada sistem jaringannya. Mereka harus mewaspadainya, mengambil langkah pengamanan ketat agar “hole” itu tak dimanfaatkan oleh cracker tak bertanggungjawab. Salah mereka sendiri kalau langkah pengamanan itu tak dilakukan.
Benar saja, sampai waktu pengumpulan data tiba, “hole” tadi dibiarkan terbuka. Ini jelas membuat teman-teman gemas. Kami memutuskan mengubah tampilan situs pemerintah tersebut dengan lelucon. Hanya lelucon. Tak ada pencurian data, pengerusakan, apalagi aksi terorisme seperti yang mereka tuduhkan. Tapi yang mereka lakukan justru membawa-bawa UU Subversif segala. Lucu, sungguh lucu!
Dan di sinilah, ruang berukuran empat kali tiga meter ini, fisikku tertahan tak bisa beranjak. Kerinduanku yang terdalam bukanlah pada dunia di luar sana, namun pada dunia maya. Mereka menyita notebook-ku, Dell Latitude kesayanganku. Selama dua tahun terakhir aku nyaris tak pernah berpisah dengan benda itu. Baru tiga hari ini. Rasanya seperti neraka saja. Memutuskan diriku dengan dunia maya sama saja dengan memisahkan Deni Manusia Ikan dengan air. Aku sedang sekarat.
“Ada kiriman,” seorang petugas menyodorkan tabloid TechnoNews ke sela jeruji. “Kamu jadi selebriti tuh di situ!” Kubaca halaman depan, sebuah judul dengan font besar di bawah headline. Warna merah menyala. “Interviu Ekslusive dengan Sahabat Trixie”. Tak sabar kubuka langsung halamannya.
Interviu dengan Susan, Satu-satunya Sahabat Trixie di Dunia Maya
Jakarta, TechnoNews
Trixie The Tricky sungguh menjadi fenomena dalam dunia virtual tanah air. Hingga saat ini seperti apa sosok pemimpin dunia underground tersebut masih menjadi misteri. TechnoNews berhasil mendapat salah satu kontak dengan Susan (26 tahun) yang kini bermukim di Freiburg, Jerman. Konon dialah satu-satunya teman karib Trixie di dunia nyata. Yang akhirnya karena keterbatasan ruang dan waktu menjadi teman di dunia maya pula. Berikut hasil komunikasi tim TechnoNews melalui email dengan Susan.

Halo Susan,
Apa kabar? Jangan terkejut darimana kami mendapatkan alamat email Anda. Berkat bantuan seorang teman hacker yang tak kalah canggih dari kelompok Trixie, kami berhasil membobol inbox email Trixie dan menemukan alamat email Anda di situ. Begitu tingginya kalian berkirim email menandakan hubungan Anda dengan Trixie cukup akrab.
Berikut ada beberapa pertanyaan yang kami ajukan, semoga Anda bersedia membalas.
1. Sejak kapan Anda mengenal Trixie?
2. Bagaimana sesungguhnya kepribadian Trixie? Apa benar ia memiliki kepribadian ganda?
3. Sejauh yang Anda tahu, siapa yang mengajari Trixie segala ilmu mengenai hacking, carding, phising, dan sejenisnya?
4. Selain Anda, siapa lagi teman dekat Trixie di dunia nyata?
5. Siapa pula teman Trixie di Internet yang Anda kenal?
6. Apa Anda juga punya keahlian hacking seperti Trixie?
Demikian dulu pertanyaan dari kami. Besar harapan kami Anda mau membalasnya. Demi kebaikan teman Anda sendiri.
Salam,
Redaksi TechnoNews

Dear TechnoNews or whatever
Langsung aja saya jawab ya.
1. Saya kenal Trixie sejak di kampus, sekitar 8 tahun lalu.Tahun 2001 saya pindah ke Jerman, jadi tak pernah bertemu fisik, hanya melalui email dan chatting di Yahoo Messenger (YM).
2. Kepribadian Tri yang saya tahu, dia pendiam, tertutup, ngga gampang akrab sama sembarang orang. Tapi dia cukup mandiri, punya keyakinan yang ngga gampang goyah, ngga mudah terpengaruh. Kepribadian ganda? Nonsens! Yang bilang begitu cuma para psikolog kurang kerjaan yang ingin dapat publisitas di media.
3. Yang mengajari semua itu tentu Internet. Tau kan, dengan Internet kita bisa menyerap segala macam ilmu, mulai yang remeh temeh sampai yang paling rumit? Bagus deh kalo udah tau.
4. Setau saya Tri ngga butuh teman selain saya. Buat cewek semandiri dia, persahabatan tidak bisa diukur dengan kuantias belaka, melainkan dengan kualitas. Tri bukan tipe manusia Indonesia kebanyakan yang senang melakukan segala aktivitas beramai-ramai. Itulah yang membuat saya salut dan tertarik untuk menjadikannya sahabat di bangku kuliah dulu. Dia tipe cewek yang sebenarnya cantik, tapi tak pernah merasa harus mengeksploitasi kecantikannya itu dengan gincu tebal, pakaian sexy dan gaya rambut seronok. Dia tipe kutubuku, intelek, cerdas dan seperti yang saya katakana, luar biasa mandiri. Cuma cowok goblok yang tidak naksir dia. Sayang, semua cowok yang ditemuinya di dunia nyata adalah cowok tolol. Jadi jangan salahkan dia kalau menemukan komunitasnya di dunia maya.
5. Ada sih beberapa. Apa perlu saya sebutkan? Lacak saja sendiri.
6. Saya bisa hacking? Bukan Cuma hacking, saya juga jago mancing, nggunting, ngeriting, mbanting dan tentu saja kencing.s
Semua sudah saya jawab. Ada yang perlu saya tekankan pada Anda dan semua media di Indonesia mengenai Trixie. Jangan sudutkan dia sebagai kriminil murni seperti maling jemuran. Yang mereka lakukan bukan apa-apa dibanding koruptor negara. Komunitas underground yang beranggotakan orang seperti Tri dan kawan-kawan tidak layak diperangi.

Salam
Susan
Email balasan Susan memang terkesan tak bersahabat. Namun bisa ditarik kesimpulan, sahabat pimpinan komunitas hacker tersebut memiliki solidaritas cukup kuat. Terbukti dari jawabannya yang klise, masih menutup-nutupi banyak hal tentang Trixie. Seperti yang kita tahu, keberadaan Trixie hingga saat ini masih disembunyikan pihak kepolisian.
Berdasar investigasi TechnoNews, sebuah sumber menyatakan bahwa Trixie yang bernama asli Trianawati adalah seorang perempuan pendiam, tertutup, bahkan kuper. “Kami jarang ngobrol sama dia, padahal sudah tiga tahun sekantor, seruangan malah,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya itu…

Bla bla bla! Kuhentakkan taboid sialan itu ke lantai tanpa menuntaskan sampai akhir tulisan. Sungguh berita tak berbobot. Sungguh sahabat yang bisa diandalkan Susan itu. Juga sebagian besar temanku di dunia maya. Hanya entah bagaimana kabarnya keberadaanku justru bisa dilacak karena testimony salah satu dari mereka. Siapakah itu? Jawabannya masih menjadi misteri yang berputar-putar di kepala.
Mendadak saja aku sosok Sangkakala melintas. Mungkin begini dulu ia merasakan dipenjara. Kutilik-tilik ada sedikit persamaan antara aku dan Sangkakala. Kami sama-sama dipenjarakan secara fisik karena pemikiran kami. Bedanya ia menempuh jalan dunia nyata, sedang aku dunia maya. Dan dimanakah kini ia berada?
Suara derap langkah kaki mendekat. Wajah-wajah mereka akhirnya muncul dari luar bilik jeruji. Satu orang sipir, satu lagi komandan polisi yang sudah kukenal, satu lagi lelaki berstelan jas. Tak salah lagi, yang terakhir adalah pengacara.
“Selamat pagi, Trixie,” ujar komandan dengan suara berat. Aku terdiam menatapnya. “Selamat pagi, Trixie,” si stelan jas membebek salam itu. Aku masih tak bergeming. Dia pasti akan menawarkan diri menjadi pengacaraku, seperti yang sudah-sudah. Ini ketigakalinya para ahli hukum itu datang menawarkan bantuan sebagai pembelaku. Apa yang harus dibela? Siapa yang bersalah? Tak ada sama sekali.
“Saya Ariston Hendrian, pengacara,” ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tak kuhiraukan. Aku bosan dengan prosedur ini. Sipir membuka kunci, aku diperbolehkan keluar ke ruang rapat di sebelah. Lalu aku dipersilakan duduk besama mereka. Si komandan berbla bla bla berorasi tentang pentingnya pengacara bagi orang dengan kedudukan sepertiku. Ia meninggalkan aku berdua saja dengan sarajana hukum itu. “Saya dengar kamu memang menolak didampingi pengacara. Alasan kamu karena amu merasa tidak bersalah. Justru karena tidak bersalah itulah maka kamu butuh pembela, Trixie,” Ariston mulai merengek seperti dua pengacara lain sebelumnya.
“Mas, nama saya Trianawati, biasa dipanggil Tri. Bukan Trixie. Itu hanya n
ama di Internet,” ralatku datar.
“Baik Tri, sebenarnya apa alasan kamu menolak didampingi pengacara? Tenang saja, say pro bono alias tidak meminta bayaran atas jasa pembelaan ini.”
“Orang yang pantas dibela adalah orang yang bersalah, Mas. Saya tidak bersalah. Tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi tak ada alasan menahan atau membela saya,” suaraku lancar mengalir. Sudah hapal betul aku dengan kalimat itu,sebab sudah pernah kuucapkan pada dua pengacara lain.
“Tri, dengar baik-baik. Ini semua menyangkut masalah hukum yang kamu sama sekali tidak paham. Ada azaz praduga tak bersalah dalam hukum, dan saya mau kamu dikenakan azaz itu. Kamu tak bisa tahu bagaimana memperkuatnya tanpa bantuan orang yang paham betul tentang itu…” Mulailah ia menyerocos ihwal bagaimana pentingnya pengertian tentang hukum, betapa vitalnya peran pengacara dalam kasus seperti ini. Dan sejenisnya. Dan sebagainya. Aku hanya tepekur ngantuk.
Lama setelah ia berorasi tentang pentingnya hukum, akhirnya aku menyela. “Menurut anda yang pakar hukum, apakah hacker itu?”
“Hmm, hacker itu orang yang membobol jaringan keamanan komputer. Melanggar privasi. Tapi apa motivasinya, itu bisa sangat bias pengertiannya. Seperti pencuri yang bisa diperingan hukumannya setelah tahu apa motivasinya mencuri. Apakah untuk kesenangan belaka, untuk memfitnah atau demi kepentingan yang masih bisa dibenarkan. Contohnya saja maling ayam. Kalau motivasinya demi menghidupi keluarga, akab beda hukuman yang dijatuhkan dengan mereka yang motivasinya untuk modal berjudi…”
Sekarang kepalaku berdenyut-denyut sakitnya. Orang di hadapanku ini boleh saja punya titel sarjana, berdasi, berjas dan mungkin penghasilan bulanannya sepuluh kali lipat gajiku. Tapi ia sama sekali tidak tahu definisi hacker. Layakkah orang macam ini menjadi orang yang kupercaya untuk membelaku?
Sepertinya masih lama sekali ia duduk di hadapanku dengan gaya pidato seolah ia berada di ruang sidang untuk beraksi sebagai pembela piawai. Tak satupun kata-katanya yang mampir ke benakku. Yang berseliweran di kepala ini adalah siapa gerangan yang menurut polisi mengatakan akulah otak sekaligus pimpinan semua aksi kriminal di Internet? Pimpinan? Otak? Kami tidak butuh sosok pemimpin di dunia maya. Dunia kami adalah dunia tak mengenal hirarki. Tak ada pimpinan, tak ada yang dipimpin. Betapa naifnya mereka menyamakan dunia maya dengan dunia nyata. Dunia kami terlalu indah untuk dikotori dengan hirarki seperti dunia nyata yang pada akhirnya hanya menciptakan batas, kelas, pengkotak-kotakan manusia sebagai raja dan hamba sahaya. Sunguh memualkan. Pertanda mereka semua buta absolut terhadap apa yang sudah terjadi.
Tapi memang sebuah kebodohan sudah kulakukan. Membocorkan identitas pribadi kepada salah satu hacker bukanlah jalan yang bijak. Bagaimana lagi, aku begitu terbius oleh kata-katanya. Instingku saat ini mengatakan, dialah asal muasal penyebab aku berada di rutan ini.
***

Ada sesuatu pada diri Zarathustr4 yang membuatnya identik dengan Sangkakala. Tiap kali chatting, SMS atau berkiriman email dengan dia, pikiranku melintas pada Sangkakala. Selalu kubayangkan ia adalah lelaki yang menggetarkan hatiku di dunia nyata itu. Lelaki dengan idealisme membara, meneriakkan jargon-jargon revolusi dan idealisme kiri ke telingaku.
Zarathustr4 kukenal melalui channel #bugtrack di mIRC. Ia juga member sebuah milis hacker. Yang menarik dalam dirinya adalah ia tak segan membuka jatidirinya padaku. Mengaku bekerja pada sebuah kantor Internet Service Provider (ISP), Zara, begitu ia kupanggil, juga menyukai sastra, film dan musik. Ia tak pernah mengirim pic. Pada weblog dan Friendster-nya hanya diwakili oleh sosok gambar Zoroaster, si penelur agama Zaratustra, sebuah agama baru di Timur Tengah.
Ia sempat keceplosan dirinya pernah menjadi aktivis sewaktu mahasiswa. Tapi tetap tak mau mengaku di kampus mana. Hanya semua yang dikisahkannya sangat mirip betul dengan Sangkakala. Memang ada ribuan atau bahkan jutaan orang yang masa kuliahnya dihabiskan dengan demonstrasi, mengutuki penguasa. Ada begitu banyak kepala yang mencoba-coba beraliran kiri atau kekiri-kirian. Tumbangnya Orde Baru yang notabene anti dengan segala hal berbau kiri membuat orang muda berpikir kiri adalah sexy. Ini serupa euphoria. Jumlah mereka sangat banyak. Mirip dengan tumbuhan cendawan yang awalnya dimusnahkan dalam video games Mario Bross, lalu tumbuh dengan bebas saat Mario mati.
Karena revolusi di dunia nyata tidak semudah membalik telapak tangan, maka kita laukan revolusi di dunia nyata.
ya, aku tahu itu. Itu juga yang pernah terlintas di pikiranku. Mungkinkah revolusi ini dilakukan oleh mereka yang gagal melakukannya di dunia nyata?
Tidak juga. Justru kebanyakan teman-teman berasal dari golongan menengah ke atas yang sudah cukup mapan. Mereka tak pernah berpikir setitikpun tentang revolusi. Mereka hanya programmer, freak computer dan sejenisnya. Ah, mungkin hanya aku saja yang menafsirkannya berlebihan.
No way. Aku juga berpikir sama, Za.
Jadilah sejak itu aku mudah saja memberikan nomor ponsel. Komunikasi berlanjut di SMS. Kuanggap dia Sangkakala yang lama hilang sudah kembali. Jadilah sebuah kisah cyberlove. Cinta di dunia maya. Tak pernah bertemu fisik, cukup di chat room, email, paling banter SMS. Telepon juga tidak. Aku sudah mendogmatisasi, takkan pernah mengizinkan satu pun teman di net menelepon. Zarathustr4 mematuhi dogma itu. Nomor ponsel pun hanya kuberikan pada Zarasut4 seorang. Lain tidak.
Sejak itu pula aku kian tak peduli dengan dunia nyata. Hanya ada dua kehidupan sosial di dunia nyata, yakni tempat kerja dan rumah. Di rumah aku hanya tinggal bersama nenek yang merawatku sejak kecil. Di usianya yang 60 tahun lebih, nenek sudah mulai sakit-sakitan. Sepulang kerja aku disibukkan dengan pekerjaan rumah. Nenek masih kuat memasak dan bebenah rumah. Tapi mencuci dan berbelanja kebutuhan sehari-hari menjadi bagianku. Nenek juga jenis perempuan yang tak banyak tanya. Ia hanya tersenyum, ngobrol basa-basi, membelai rambutku, setiap kali kupulang kerja. Setelah semua kerja rumahan beres, aku masuk ke kamar. Di sanalah kubuka Dell Latitude-ku, mengaktifkan koneksi Internet dan sim salabim, aku sudah ada di dunia lain. Dell ini kubeli dari hasil menabung. Walau gajiku tak seberapa, berkat gaya hidup super sederhana bersama nenek aku masih bisa berlangganan Internet. Dengan mengakses net dari rumah, ada lebih banyak waktu bagiku bergaul dengan teman-teman.
Tak bisa disangkal kadang teman-teman ini agak gila juga. Selalu ada saja keisengan mereka yang membuatku was-was. Seperti ide membobol jaringan sebuah bank nasional, men-deface website instansi pemerintah, website pemerintah negara lain, menciptakan virus, worm, dan banyak lagi. Aksi itu hanya sekadar unjuk gigi untuk menandakan eksistensi mereka. Tidak ada motivasi lain. Kegiatan ini biasanya dilakukan berkelompok. Ada yang menamakan dirinya Goendoelpacoel, sebuah kelompok beranggotakan para newbie, yakni hacker pemula atau lebih dikenal dengan nama “Wanna be Hacker”. Mayoritas mereka melakukan script kiddies, mempraktikan program ciptaan hacker lain. Biasanya didapat dari chat room atau milis. Kelakuan mereka kerap membuat gerah hacker lain dengan mengklaim diri sebagai hacktivist, yaitu hacker activist. Pasalnya tidak semua hacker mau disamakan dengan pelaku deface. Sebagian berpendapat deface adalah aksi pengrusakan yang masuk dalam kategori aksi cracker, yaitu hacker yang merusak. Inilah yang kadang merusak identitas hacker. Belum lagi ditambah para carder yang kian merajalela. Cracker, carder, di mata umum sama saja dengan hacker.
“Biarkan saja kesalahkaprahan itu. Kita udah cape. Kita lebih suka disebut sebagai security analist atau programmer saja,” ujar seorang teman.
Ada semacam hirarki tersendiri di komunitas ini. Tidak semua setuju dengan hirarki yang ada, tapi memang pada dasarnya klasifikasi ini tetap terlihat.
Idiom hacker hitam dan hacker putih juga kian sulit dibedakan saja. Putih adalah mereka yang sudah “tobat” dengan sepak terjang merusak dan menyebarkan virus dimana-mana. Sedangkan hitam adalah teman-teman yang kadang masih suka jahil membuat virus lalu menyebarkan ke seantero dunia maya. Kendati di komunitas underground klasifikasi itu masih jelas, prakteknya tak selalu demikian. Selalu ada saja teman yang tidak konsisten. Hari ini jadi hacker putih, esok berganti kulit jadi hitam. Lusa entah apa lagi. Itulah manusia. Tidak di dunia nyata atau maya, tetap sama saja plin plannya. Semuanya adalah teman-temanku. Aku mengikuti sekitar 20 milis, sebagian besar milis hacker tak peduli hitam, putih atau belang-belang. Dari sini aku tahu mereka masih terpilah lagi menjadi beberapa kelas sesuai kemampuannya menciptakan program, baik itu pembobol maupun penguatnya. Ada hacker elite, yakni mereka yang sudah sanggup merancang program sendiri, baik membobol dan mempertahankan sistem jaringan. Mereka tidak lagi melakukan script kiddies seperti golongan newbie. Kelas elit popular juga dengan sebutan suhu karena memang inilah hirarki tertinggi di kalangan mereka. Para elit merupakan hacker paling pakar, menguasai sistem jaringan dari luar maupun dalam. Mereka memegang teguh etika hacker, yakni tidak melakukan pengrusakan maupun pencurian data, apalagi menyalahgunakannya untuk mendapatkan barang atau uang. Elit merupakan golongan teratas dari strata ilmu jaringan keamanan. Mereka biasanya menduduki jabatan penting di divisi IT suatu perusahaan, setidaknya dipercaya menduduki tampuk kepemimpinan. Ada lagi kelas semi elite, hacker yang merancang sendiri programnya namun tidak sehebat elit. Keduanya sama-sama pakar dalam hal sistem keamanan network. Biasanya mereka bekerja sebagai programmer atau admin sistem jaringan suatu perusahaan. Kadang keahlian mereka dibutuhkan oleh perusahaan besar atau instansi pemerintah untuk memperkuat keamanan jaringan mereka. Ini banyak dilakukan temanku Morph3us yang sering ditugasi membobol jaringan bank-bank besar. Antara kelas elit dan semi elit sering terjadi persaingan. Pada dasarnya meeka hampir memiliki kemampuan serupa.
Sedangkan di bawahnya ada development kiddies, sedikit lebih pintar dari newbie tapi masih berusia dini. Biasanya pelajar atau mahasiswa. Di bawahnya lagi adalah newbie ayang tergolong benar-benar pada taraf pemula menjadi hacker. Paling rendah adalah golongan lamer, orang yang pengetahuannya sangat dangkal tetapi berlagak pintar dan senang memamerkan keberhasilannya. Lamer ini akan sulit berkembang menjadi elit atau semi elit karena memang motivasi mereka bukan untuk meningkatkan keahlian, melainkan hanya untuk bergaya saja. Biasanya golongan ini berkembang menjadi hacker hitam yang menyalahgunakan kemampuannya untuk carding, cracking, dan sejenisnya.
Mereka, carder, cracker, hacker hitam, putih belang bonteng ini, semua adalah teman-temanku. Aku menyatukan semua dalam satu komunitas yang dinamai Wormgrounder. Berasal dari komunitas milis berbeda-beda, kami menyatu di sini dengan satu tujuan, menumbangkan dominasi satu vendor sistem operasi. Sesuai dengan ideology yang didengungkan Stallman dan Torvalds, kami selalu menolak dominasi satu produk software yang membuat semua user tunduk begitu saja dengan aturannya. Kami bersama-sama berupaya memecah dominasi tersebut dengan menciptakan aneka program yang membobol, merusak program mereka.
Pada dasarnya software buatan vendor dominan itu sangat mudah diterobos karena memiliki banyak sekali vulner alias celah atau hole. Suatu software yang sedemikian mendominasi dan banyak dipakai user otomatis akan sangat mudah diterka vulner-nya. Hanya dalam hitungan jam atau hari, begitu mereka merilis satu program, maka hacker bisa dengan mudah mendapatkan hole itu. Eksploitnya sangatlah kecil.
Hal berbeda berlaku pada sistem operasi Open Source yang amat banyak varian dan distronya. Jangan heran kalau perusahaan yang banyak diserang virus komputer adalah perusahaan yang mempercayakan sistem jaringannya pada satu vendor yang dominan itu tadi. Sedangkan pada jaringan Open Source seperti Linux, virus sangat jarang ada. Kalaupun ada hanya pada masa-masa awal kebangkitan Open Source dulu, itu pun hanya bersifat teoritis, dimana sesama pembuat virus saling memberitahu untuk menguji coba program yang mereka buat.
Seperti yang kuungkap di atas, dunia maya adalah dunia tak mengenal sistem hirarki. Jadi komunitas Wormgrounder ini merupakan komunitas yang benar-benar berbasis konsep persamaan, persaudaraan. Tidak ada satu golongan pun yang lebih berkuasa dari yang lain. Hacker kelas elite sekalipun tidak bisa berkuasa atas newbie atau bahkan aku yang gaptek sama sekali. Kami memandang dunia maya sebagai satu dunia bebas merdeka yang bisa dijelajahi kapan pun dan kemana pun kami mau. Website-website milik negara lain bisa dengan mudah kami terobos. Kami juga menjalin hubungan baik dengan hacker dari negara lain. Nama-nama hacker yang menjadi tokoh dalam buku Underground –nya Dreyvus satu demi satu berhasil kami kenal secara pribadi. Sebut saja Mendax, hacker asal Australia yang sudah memulai sepak terjangnya sejak 1988. Lelaki asal Melbourne tersebut masih berusia 16 tahun ketika berhasil menerobos sistem komputer Minerva yang banyak dipakai di institusi perbankan Australia. Mendax sudi membagikan sedikit ilmuwan seperti yang disebut dalam Underground. Menurutnya, nama-nama akun di sistem Minerva sangat mudah konsepnya. Masing-masing terbentuk dari tiga huruf yang diikuti oleh tiga angka. Sistem ini sebenarnya cukup susah diterobos karena banyak sekali kemungkinannya. Tapi dengan mengetahui polanya, maka semua akan muda. Pola itu adalah tiga huruf pertama hampir selalu singkatan dari nama perusahaan. Misalnya saja Bank ANZ memiliki nama akun ANZ001, ANZ 002 dan ANZ003. Nomor-nomornya selalu mengikuti pola sama dengan kebanyakan perusahaan. Mendax berpendapat, orang dengan IQ pas-pasan sekalipun bisa dengan mudah menerka nama akun sebuah perusahaan. Untuk menebak passwordnya, dibutuh sedikit lagi pemikiran kritis. Biasanya ini dilakukan dengan cara menjalin hubungan baik dengan seseorang yang bekerja di balik komputer perusahaan yang bersangkutan. Password user karyawan bank merupakan cara termudah untuk melacak password-password lainnya. Bahkan sesungguhnya di kalangan underground, tersebar data password user sistem Minerva yang bisa di-download. Data yang terdiri atas 30 halaman itu berisikan nama user, nama perusahaan, hingga alamat, nomor telepon dan faksimili. Memang tidak semuanya bisa dipercaya, tapia da yang cukup valid juga.
Inilah yang digali dan dilakukan oleh teman-teman. Membangun komunitas besar merupakan keuntungan tersendiri, sebab dengan kian luasnya networking kami, kian banyak pula informasi dan data yang bisa didapat serta ditukar. Sebuah website pun dibuat, http://www.wormgrounder.org. Berisikan aneka informasi script, forum tanya jawab, terkoneksi dengan berbagai link ke website lain yang juga sarat pengetahuan. Di sinilah kami bebas berkomunikasi, dari masalah paling teknis sampai sekadar canda. Kadang membahas topik yang tak ada hubungannya dengan komputer, seperti musik, politik, buku serta isu-isu terkini. Soal database Pemilu, nilai rupiah yang terus merosot, dimana mencari koleksi album Jimmy Hendrix lawas, info tentang konser musik, film terbaru, banyak lagi. Untuk masalah yang lebih pribadi bisa dikomunikasikan lewat jalur pribadi alias japri, entah itu email atau chat. Di Wormgrounder juga kami saling unjuk gigi jika sudah berhasil membobol suatu sistem jaringan, entah itu dalam atau luar negeri. Selalu ada saja ide jahil teman-teman mengakali, seperti bagaimana masuk log in koneksi ADSL tanpa membayar sepeser pun. Kalangan penerobos ponsel tidak pernah surut idenya. Bagaimana mendapatkan hole pada jaringan provider selular sehingga berkiriman SMS bisa gratis. Atau iseng menjahili orang dengan mengirim SMS memakai nomor ponsel lain. Ada lagi teman-teman phreaker, yakni “pencuri” saluran telepon fixed yang bisa dengan mudah menerobos sistem komunikasi perusahaan. Para phreaker ini salng membagi ilmu bagaimana melimpahkan pulsa telepon interlokal bahkan juga internasional ke sejumlah perusahaan asing. Sungguh aksi yang nakal-nakal. Tapi siapa suruh mereka menciptakan sistem keamanan yang gampang ditembus?
“Setiap teknologi selalu memiliki kelemahan. Sekali kelemahan itu ditemukan, mereka akan segera memperbaikinya. Dan saat itulah kami kembali mencari kelemahan lain. Inilah tantangan bagi kami,” seorang teman pernah berkata.
Hampir setiap dari kami memiliki weblog yang berisi jurnal harian, opini hingga curahan hati. Ketika demam Friendster merebak, kami tak mau ketinggalan. Jarang ada yang mau menampilkan foto aslinya. Terlebih aku. Profil diriku di situ diwakili oleh avatar yang dibuat sendiri. Sosok perempuan berkacamata, rambut bob, dengan pandangan mata tajam. Dua yang pertama betu, tapi soal mata tajam itu hanya fantasi belaka.
Zara adalah satu dari banyak hacker yang kerap membanggakan kepiawaiannya. Terutama di depanku. Tiap kali ia berhasil menemukan hole baru pada suatu sistem, langsung ia meng-SMS-ku, dengan harapan akan kusampaikan ke teman-teman lain. Dan bodohnya, selalu saja itu kulakukan.
Terus terang saja, dulu, sebelum menemukan nickname Zara, aku selalu berharap bisa menemukan sosok Sangkakala pada diri lawan chat. Setiap mahluk yang mengidentifikasikan dengan jenis kelamin m (male) selalu kuanggap sebagai Sangkakala. Dan kali ini ada cowok ber-nick name Zarathustr4. Mengaku bernama asli Radik Kalangi, usia 27 tahun, bekerja di sebuah bank swasta sebagai admin system. Dia lebih suka kupanggil Zara. Tidak ada penyebutan nama asli di setiap perbincangan kami secara online. Dia memanggilku Trixie, sama seperti semua temanku di dunia maya.
Kami berteman sekitar enam bulan sebelum aku memberinya nomor ponselku. Dengan perjanjian, tak ada panggilan telepon. Cukup pesan singkat saja, SMS. Kami juga tidak boleh memberi nomor ponsel masing-masing ke orang lain. Sungguh sebuah hubungan yang janggal bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi kami. Di luar semua prasyarat tadi, kami berhubungan selayaknya teman akrab, bahkan kadang juga kekasih. Susan mentertawaiku setengah mati. Sampai ia merasa tidak sayang menghamburkan uang untuk meneleponku, memastikan apa yang kukisahkan di email itu benar. Derai tawanya terdengar mirip kuntilanak berkumandang dari seberang benua nun jauh di sana. Suaranya bahkan memekik, menyerupai decitan ban Bajaj yang melindas kucing.
Selayaknya manusia yang terjerat cinta, aku ehilangan akal sehat, bahkan juga otakku. Tanpa sadar aku kerap berkeluhkesah, curhat, tentang hidupku sehari-hari pada Zara. Tentang suasana kantorku yang tidak manusiawi. Soal teman-teman kantor yang meledek sepatu boot merahku. Tentang atasan super cerewet yang menganggapku robot tak bernyawa sehingga memberi perintah cukup dengan rentetan kata tak berirama, tanpa senyum atau basa-basi. Tentang bagaimana ruwetnya menjadi moderator milis yang beranggotakan 7000-an hacker dari beragam komunitas dengan beraneka kemauan. Semua kumuntahkan begitu saja ke Zara seperti berondongan senapan uzi otomatis. Dan tanpa sadar pula aku sempat menyeploskan alamat kantor, telepon bahkan juga nama perusahaanku. Juga tentang aku yang hanya tinggal bersama nenek seorang sejak kecil. Oh, kenapa tidak sekalian saja kusebut password dan nomor rekening bank-ku? Betapa aku sungguh-sungguh seekor keledai dungu. Mempercayai begitu saja orang yang hanya kuketahui nickname dan nomor ponselnya. Keledai bodoh bin idiot aku ini!
***
Acara gathering para Wormgrounder sungguh menyita banyak sekali waktuku. Untuk persiapan acara ini aku sampai rela menghabiskan malam-malam di depan Dell Latitude kesayanganku. Pekerjaan kantor terpaksa kubawa pulang sebab di kantor aku lebih banyak memanfaatkan akses telepon untuk menelepon kesana kemari demi mengumpulkan informasi tempat, biaya yang dihabiskan, mengecek transferan dana dan sejenisnya. Belum lagi mengadakan chat confference dengan teman-teman Wormgrounder. Tidak semudah yang dibayangkan, mengorganisir seemikian banyak orang dengan keinginan berbeda-beda, ide beragam serta ego satu sama lain yang tak mau dikalahkan, cukup membuat kepala mau pecah.
no way, mam. Gue ngga suka tempat itu. Terlalu terbuka.
Tapi ada live musiknya. Band-nya asik.
Kenapa ngga di Carabean Night aja?Manajernya aku kenal. Bisa dapet diskon.
ohya, week end tanggal segitu aku ngga bisa, ada acara keluarga.
Blah blah blah. Untuk menentukan hari dan tanggal saja butuh kompromi dengan banyak kepala. Ditambah tempat yang tak kunjung menemukan kata sepakat. Belum lagi kalangan hacker elite yang tak mau dipertemukan dengan newbie yang katanya norak.
Akhirnya, dengan perjuangan, emosi tertahan, kebijakan yang dipaksakan, gathering itu ditetapkan sudah. Sebuah café eksklusif di selatan Jakarta disewa secara tertutup. Peserta dibatasi 40 orang, diseleksi khusus member milis yang bisa dipercaya karena kompetensinya. Ini dilakukan demi mengantisipasi hadirnya mata-mata yang notabene bisa jadi kaki tangan polisi. Sulit memang mendeteksinya. Kami hanya saling berkomunikasi di dunia maya. Bagaimana mungkin bisa yakin bahwa data dan informasi ihwal jati diri satu sama lain memang valid?
“Ini semacam tindakan spekulatif. Bagus kalau semua clean. Tapi yang lucu kalau justru semua adalah penyamar. Atau justru para lamer menjijikan?” Begitu ungkap Zeus2000 mengomentari kesangsianku tentang kevalidan jatidiri teman-teman. Setidaknya yang bersedia datang sudah mentransfer dana booking tempat. Menandakan mereka benar eksis di muka bumi. Bukan sekadar nickname dan nomor IP yang sulit dilacak. Dan hari H itu tiba. Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa semua peserta acara ini akan memakai topeng. Sebuah pesta topeng. Masquarade.

Bab III: The Dream of Morpheus
(http://morp3us.blogspot.com)
Kunamakan diriku Morpheus. Dan mereka pun memanggilku Morpheus. Di mana di belahan nyata ini kau bisa bebas menamakan dirimu sendiri? Tidak ada. Begitu lahir, orangtua memberimu nama. Kaupun dipanggil dengan nama itu. Juga saudara, teman, tetanggamu. Di pergaulan, kau mencoba mengganti nama itu. Tidak mudah. Kadang ada nama aneh serta konyol yang ditakbiskan menjadi panggilanmu. Sungguh sial jadi manusia. Tak bisa bebas memilih ingin jadi apa. Sebagian besar langkah kita ditentukan oleh sekitar. Oleh orang lain. Yang bahkan tak mengenal kita dengan baik. Tapi berterimakasihlah pada pihak militer Amerika Serikat. Sistem komunikasi mereka menjadi cikal bakal Internet, sebuah dunia dimana setiap individu bisa bebas menamakan dirinya. Bukan hanya nama. Bahkan wajah , jenis kelamin, ras, agama, ideology, mimpi, obsesi, dan banyak lagi, bisa kita pilih sesuka hati.
Morpheus namaku. Kupilih itu karena aku memang kerap terbius banyak hal. Ingin juga aku menularkan bius itu ke setiap orang yang kujumpa. Sedahsyat morphin yang membuat orang tak berdaya bangun dari tidurnya. Menghilangkan rasa sakit walau sementara. Membuat ketagihan orang yang memakai. Lagi, lagi dan lagi. Berwaspadalah bila jumpa nama itu di dunia maya. Kau akan terbius bersamanya. Dan entah kapan baru bisa terbangun.
Morpheus A.K.A morph3uz A.K.A Morgan. Yang terakhir itu singkatan morphin dan ganja. Biar begitu aku bukan junkies. Boleh saja sama-sama membius dan terbius, tapi bukan dengan benda sejenis itu. Dengan mur, baut, juga kabel-kabel. Deretan angka serta huruf tak beraturan. Kode, sandi, enskripsi yang begitu sexy. Dengan berkendara satu unit PC dengan spesifikasi AMD athlon 1300 MHz, 192 MB of SDRAM, 20 GB of Hardisk. Sistem operasinya Ubuntu (Hoary) dan XP SP 2. Kadang ditemani laptop Toshiba Tecra 8100 cantikku beserta 600 Mhz, 256 MB of RAM1dan hardisk 2 GB. Keduanya adalah istri terkiniku yang dengan setia menemani kesendirian siang malam. Keduanya bahkan lebih dari istri, melainkan nyawa cadangan yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Setidaknya selama aku belum mampu membeli yang baru. Haha.
Cinta pertamaku adalah sebuah PC rongsokan bekas yang dibeli bokap di Mangga Dua. Sistem operasinya masih MS DOS versi 6.0. Tidak terlalu berkesan sebab lebih tertarik dengan mur baut motor tua. Baru dua tahun kemudian PC diupgrade jadi MS DOS versi 6.22. Di sekolah dimana aku rutin pakai putih abu-abu ini, komputer jadi ekstrakulikuler yang menantang. Lalu melangkah mengenal Lotus 123. Hmm, too serious. Games lebih interest. Mario Bross dan semua game berbasis DOS memang mengasyikan. Muncul keinginan bikin program komputer sendiri. Asik juga kalau tak harus tergantung pada program yang sudah baku, standar. Enak juga kalau kita bisa menciptakan sesuatu sesuai keinginan perut dan otak kita.
Untuk mencipta, kita harus mengawali segalanya dengan belajar bahasa penciptaan. Inilah yang membuatku jadi rajin mengobok-obok BASIC dan dBASE. Kelamaan makin terbius setelah menonton sebuah film, kalau tak salah berjudul Wargame. Tentang orang-orang hebat di balik komputer. Baru belakangan kutahu itu yang namanya hacker.
Selang beberapa tahun kemudian, terjadi ledakan alias booming Internet di Republik Indonesia. Kebetulan saat itu reformasi politik tengah berkecamuk. Suharto lengser oleh aksi mahasiswa. Semua berita santer politik bisa kita intip lewat dunia maya. Ada banyak hal yang tak kita baca di media cetak namun bisa begitu familiar di dunia ini. Siapapun, dimanapun, asal terkoneksi dengannya, bisa bebas merdeka menyampaikan pandangannya. Cukup ketik saja apa yang ada di kepalamu, dan akan banyak orang di luar sana membacanya. Bermunculan pula media-media online lokal, menyusul kemudian mailing list alias milis. Di forum ini siapapun merdeka saja mengetikkan hujatan, makian, ledakan dendam politik pada rezim yang ambruk. Suatu euphoria luar biasa. Tabik untuk Internet!
Mengenal dunia kampus setahun setelah itu. Masih pakai MS Windows 98. Saat surfing di Internet secara tak sengaja menemukan Manifesto Hacker oleh The Mentor. What a great man he was! Juga membaca secara online “How to Becoma a Hacker”-nya Eric S. Raymond. Kemudian mulai mengenal Pascal, C, bagaimana membuat HTML, memakai Netscape Composer, dan pertamakali punya homepage pribadi berkat Geocities.
Karena The Mentor pula, aku mulai jatuh cinta pada Open Source. Terlebih setelah menemukan nama Linus Torvalds. Setelah sedikit bisa Javascript untuk membuat HTML yang ciamik, perlahan mulai melirik Linux. Di sinilah bertemu dengan Redhat 7.0. Lalu berkembang jadi Redhat 7.1, Mandrake 8.2. Segala yang berbau Open Source mulai mengintimidasi. Mencari teman sejiwa di belantara maya ternyata tak sulit. Di milis Hello_Newbie aku bertemu sejumlah teman seperti Zeus2000, G3nderuwo, dan banyak lagi. Kami membuat chat room di mIRC. Ternyata di banyak peminat. Chat room itu bernama #Cecurut yang beberapa bulan kemudian disusul menjadi sebuah milis. Ada pula websitenya yang kami buat dengan PHP Nuke sederhana saja.
Namaku Morpheus. Seperti morfin, aku membius dan terbius. Dunia nyata kian jauh saja. Wanna know about my true life? Not so bad, actually. Dunia nyataku sangat indah sesungguhnya. Kata orang, aku tergolong manusia yang punya rasa percaya diri berlebihan. Terlalu PD, begitu seorang teman beropini. Avatar yang kubuat di Yahoo Messenger sebenarnya adalah profilku yang sesungguhnya. Namun karena terlalu bagus, banyak teman di net tidak percaya, menganggapnya avatar rekaan demi menutupi karakter asliku. Hahaha. Itulah yang kusuka dengan net. Kita bisa menjadi apapun yang kita mau, sekaligus juga menjadi apapun yang kita harapkan orang mau.
Seperti yang disinggung tadi, komputer sudah membuatku birahi sejak bangku SMP. Kian menggila saat SMA. Tidak heran kalau lulus sekolah aku ngotot kuliah di bidang serupa. Thanks God orangtuaku bukan tipe ortodok yang memaksakan kehendak. Barangkali di mata mereka komputer memang bidang menjanjikan di masa depan. Di situlah aku kian tenggelam dalam keindahan mur, baut dan kabel-kabel. Sandi, kode dan enkripsi. Bahkan di banyak mata kuliah aku langganan dapat nilai A karena semua materi yang diberikan dosen sudah kukuasai jauh-jauh hari. Ujian praktek jangan ditanya. Semua soal kulahap habis seperti naga api menjulur-julurkan lidahnya pada tubuh Mario Bross.
Tenggelam di belantara jagat maya tak berarti tertutup di pergaulan dunia nyata. Who said that hacker is a nerd? Non sense. Silakan saja Bill Gates mengakui dirinya nerd. Tidak heran kalau dia jadi manusia kuper, tak sudi membagi ilmunya pada orang banyak. Go to hell saja orang macam itu. Gates gave us a bad name! Really really a bad name. Di dunia nyata aku memang bukan Morpheus. Tapi biusanku tak kalah berbahaya dari nama itu. Berbekal wajah yang kata orang ganteng, ditambah wawasan luas, paham soal komputer, membuatku tumbuh jadi manusia penuh percaya diri. Sedikit arogan malah. Selulus kuliah aku berpindah kerja seenak hati. Tak puas di satu profesi, pindah ke profesi lain. Mulai dari admin, host, webdesigner, penjaga perpustakaan, petugas riset, sempat jadi (ups) fotomodel freelance, kontributor satu media online, penjaga warnet, dan sekarang masih betah jadi asisten lab sebuah perguruan tinggi terkemuka. Siapa sangka lulusan kampus swasta bisa “mengangkangi” lab kampus negeri bergengsi? Luasnya jejaringku di dunia nyata dan maya lah yang menjadi pencetusnya.
Memang, di masa sekarang pertemanan, menjaga hubungan baik, memperluas pergaulan serta koneksi merupakan modal utama yang dibutuhkan. Otak pintar, wajah ganteng, tanpa koneksi akan nol besar hasilnya. Otak encer, wajah ganteng, pandai menjalin koneksi, maka kau bisa menjadi apapun yang kaumau. Sesungguhnya bukan prestise kampus bergengsi ini yang jadi target utama. Tapi bagaimana kita bisa mengakses net 24 jam full tanpa membayar sepeserpun, bebas mengoprek PC tanpa batasan, itulah focus utama hidupku. Maka betahlah aku bermarkas di sebuah ruang keren lengkap dengan beberapa unit PC, server, dengan CPU tercepat, bandwidth deras. Semuanya bebas kukuasai sampai aku jenuh sendiri dan mati kebosanan.
Bosan? Bagaimana aku bisa bosan dengan ruangan ber-AC, dispenser air mineral, kopi, the, yang siap dibuat kapan saja, juga kompor listrik. Ditambah televisi sebesar daun pintu lengkap dengan DVD player, belum lagi speaker berkualitas tinggi terkoneksi langsung ke PC. Ini adalah surgaku. Kerjaku sehari-hari cukup memasukan data para dosen, meng-update website kampus, menjaga kelangsungan hidup server. Itu saja. Semua bisa dikerjakan sambil menyimak Winamp, bermain games online, chatting, surfing, menyeruput kopi dan makan pisang goreng hangat. Sambil diiringi teriakan mendiang Jim Morrison atau Kurt Cobain dari headphone tentunya. What a beautiful life!
Kalaupun jenuh, aku cukup melangkahkan kaki keluar ruangan. Ada segerombolan teman yang siap mengusir sepi. Belum lagi mahasiswi-mahasiswi cantik yang siap sedia diajak ngobrol kapan saja. Bukan hanya ngorol, mereka juga always ready kalau kuajak nonton, jalan, ke kafe atau whatever. Ke hotel? Entah, belum pernah mencoba. Hahaha!
Atau bisa juga membahas segala hal bersama Zoom. Ohya, aku lupa memperkenalkan stafku, Zoom dan Leo. Kami melakukan banyak hal bersama, terutama bermain games online seperti Ragnarok atau Redmoon. Kekanakan? Seperti iklan zaman dulu sebuah ponsel, selalu ada sisi kekanakan dalam diri setiap manusia, ingat itu. Homo luden, bahasa latinnya. Manusia adalah mahluk yang senang terlibat permainan. Jadi jangan salahkan kalau kami kadang tenggelam dalam dunia ini berlarut-larut. Sungguh mengasyikan, bukan?
Morpheus, namaku. Bukan hanya membius namun sekaligus terbius oleh keindahan hidup itu sendiri. Terlalu terbius justru, hingga perlu menciptakan dunia lain yang lebih indah lagi. Tidakkah dunia maya menawarkan keindahan lain yang tanpa batas, dimana manusia bisa menjadi apa dan siapaun yang mereka mau? Dan mulailah kuplokamirkan nama itu. Morpheus. Pada chat room-chat room, milis-milis, website-website, nama itu bisa kaujumpa tanpa meninggalkan setitik pun informasi mengenai siapa, dimana, seperti apa, bagaimana aku sesungguhnya. Hanya nama itu disertai deretan nomor IP kalau kau sanggup melacakku. Di sinilah aku bertemu teman-teman seiring sejalan. Mereka yang tak butuh dikenal sebagai apa di dunia nyata, cukup diketahui eksistensinya di dunia maya saja. Kami saling menghargai bukan karena kedudukan, profesi, kekayaan, kebesaran nama orang tua, sama sekali bukan. Di sini, kemampuan lah yang berbicara. Kemampuan menemukan program baru, mengaplikasi teknik anyar, menelusup ke dalam database yang ditamengi firewall. Kebisaan menulis aneka virus, worm atau spyware. Kriminal? Itu kata mereka. Sesungguhnya kami justru memberitahu bagaimana sebuah sistem memiliki kelemahan yang patut diperbaiki. Nerd? Gila? No way. Kalau kau bertemu aku di dunia real sana maka kau takkan pernah menyangka bahwa aku menghabiskan 18 dari 24 jam sehari di depan PC.
Dan begitulah, tiba-tiba saja aku pada suatu ketika tersihir oleh sebuah nama baru. Trixie. Sungguh nama yang seksi. Mengaku female. Awalnya aku curiga dia male yang menyamar sebagai female. Tapi dari tutur kata serta gaya bahasanya, dipastikan 200 persen dia female sejati. Nama itu muncul begitu saja di chat room #cecurut. Kusapa, mengaku masih awam dengan underground. Di-invite oleh seseorang yang tak ia kenal betul. Heran saja ada cewek yang tertarik gabung dengan chat room bernama jelek ini. Trixie bukan lamer atau wanna be. Ia bahkan mengaku lebih bodoh dari keduanya. Hanya tertarik dengan Manifesto Hacker, titik. Ingin mengenal dunia underground lebih baik dan mendukung semua perjuangannya. Hahaha. Lucu juga cewek ini. Mengaku gaptek tapi tak mau belajar teknis sebab memang tidak berbakat. Aku kenal beberapa lamer cewek yang suka sok tahu, belagu. Ujung-ujungnya mengajak kencan atau mencuri scrip kiddies, data penting dan sejenisnya yang dijadikan modal carding. Atau bisa jadi sekadar pamer gaya-gayaan pada temannya, pernah kencan sama hacker. Sungguh menjijikan. Apa ada trend baru di dunia perkencanan bahwa kendan dengan hacker itu sesuatu yang sexy?
Trixie beda dengan mereka. Tak memberi identitas apapun. Pada pertemuan kami di chat room untuk yang kelima kali, ia masih menjadi misteri. Walau awam di dunia underground, cewek satu ini terbukti tidak bodoh-bodoh amat. Dia paham filsafat, mulai Nietzhe, Plato, Hegel sampai Marx. Tak heran, ia mengaku kutu buku. Namun ia juga lancar berceloteh tentang film-film berkualitas seperti trilogy Godfather, sekuel-sekuel Star Wars sampai Indiana Jones juga petualangan Hanibal si kanibal. Ia juga paham betul kenapa Led Zeppelin bubar, The Doors lebih condong ke musik teater, hingga lirik-lirik lagu The Beatles yang penuh dengan kiasan yang mengandung kampanye drugs. Seperti apakah cewek yang sedemikian menguasai nyaris semua topik pembicaraan yang kusuka itu? Namun jangan sesekali bicara masalah teknis dengan Trixie. Dia mengaku gaptek dan itu terbukti benar. Ini satu hal yang aku saluti darinya. Tidak sok tahu, sok pinter seperti para lamer.

Iklan

2 thoughts on “Di Internet, Tak Ada yang Tahu Kamu Adalah Seekor Anjing *

Ejekan:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s