KUDUNG GAUL DAN ERA PEMUJAAN TUBUH


Muqoddimah
Kecanggihan dunia modern dengan teknologi informasinya, ternyata tidak diikuti dengan kemajuan di bidang akhlak. dunia semakin maju, tapi d isisi lain manusia kian terbelakang. manusia berhasil mencapai cita-citanya di dunia, tapi dia gagal memikirkan nasib dirinya di akhirat kelak. ironisnya, kemunduran akhlak ini juga melanda para generasi islam yang merupakan tulang punggung perjuangan islam di kemudian hari.

Kudung Gaul
Sebagai sentral pembahasan sebuah kudung gaul merupakan wujud kesuksesan Yahudi dan Nasrani menghancurkan akhlak generasi islam dan menjauhkan mereka dari kaidah hukum islam.
Firman Allah SWT:
Yang Artinya: Yahudi dan Nasrani selamanya tidak akan ridlo sebelum kalian mengikuti jejak/paham/agama mereka (QS: Al Baqarah: 120)

kudung gaul, jilbab gaul atau jilbab gaya selebritis, menjadi trend kawula muda modern yang tidak mau ketinggalan mode kudung. Ciri khas jilbab ini: kerudung dililitkan ke leher dengan baju dan celana atau rok ketat atau hampir membentuk seluruh anggota tubuh. Munculnya kudung gaul secara syar’i dikategorikan jilbab yang sungguh bukan jilbab (jilbab palsu) karena tidak memenuhi kriteria jilbab sebagaimana dituntut islam. Bahkan mereka yang telah terjerumus dalam mode pakaian yang seperti ini tergolong berbuat fakhisah yaitu suatu kejahatan yang bukan saja merugikan diri sendiri tapi juga menjerumuskan orang lain pada lembah kenistaan.
Era pemujaan tubuh
Akibat gencarnya tayangan yang menggambarkan pentingnya sebuah penampilan menarik, maka muncullah bentuk pemujaan terhadap tubuh. TV terus menerus mempropagandakan bahwa makna hidup sesungguhnya ada pada penampilan menarik. Tubuh menjadi penguasa yang bias mengalahkan segala kepentingan lainnya menurut Akbar S. Ahmad, bagi wanita modern zaman media adalah perangkap keindahan yang menggiurkan. Penampilan wajahnya harus anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya seksual dan memiliki daya pikat seksual, pakaiannya mutakhir. Wanita tidak boleh bau nafas berjerawat, apalagi bau badan. Media terus menerus menanamkan pandangan hidup dengan tubuh sebagai pusat kesadaran. Guna menopang pemujaan tubuh, dibuatlah sebagai produk pemoles tubuh mulai dari bedak, masker, lotion, pencuci wajah, lipstick, pil anti jerawat, dan lain2. bahkan ini di ciptakan mesin khusus untuk mengencangkan payudara dan wajah. Teknologi pun makin canggih dengan menciptakan mesin bedah plastik guna merubah penampilan wajah menjadi oke. Lebih radikal lagi, bagi seseorang yang tidak puas dengan jenis kelaminnya bias ditukar dengan jenis kelamin lainnya (trans seksual). budaya pemujaan tubuh ini melahirkan remaja2 yang doyan pamer aurat. Dijalan2 remaja wanita sudah tidak risih lagi dengan pakaian ketat dan nyaris terbuka misalnya rok mini dengan kaos you can see serta jeans bolong dan ketat. Dandanan wajah dan rambut tidak karuan. Lebih mengkhawatirkan dari semua itu, yaitu budaya hidup bersama (freesex) atau dalam istilah Jawa “kumpul kebo” yang becermin dari bebasnya mereka bergaul dan bergerombol dengan lawan jenis.
Sementara itu, remaja putri islam saat ini tak lebih dari korban keganasan modernisasi. Mereka terimbas dengan mode pakaian yang lahir dari budaya non islam. Akibatnya muncul kesan bahwa yang baik dan benar adalah apa yang datang dari barat. Tak heran jika merebaknya kudung gaul sulit ditanggulangi, karena remaja kita sudah kadong terbelenggu iming2 gaya hidup selebritis yang di propagandakan para selebritis dari dunia entertainment (hiburan).
Dunia fatamorgana
Remaja modern kini telah berada di dunia kepura2an, dunia fatamorgana dan gosip. ironisnya mereka percaya pada kepura2an itu. Tiap hari mereka disuguhi 80% tontonan TV yang berisi kepura2an bahkan kebohongan dan gosip. Film2 atau sinetron yang mereka pergoki tiap hari menawarkan berbagai kepura2an yang sangat ironi. Begitu pula iklan2 yang menawarkan penyembuhan tuntas dan gaya hidup “wah” dengan klip yang bebas moral, juga syarat pura2an.
Di dunia pura2an tidak mengenal urusan percaya/ tidak, yang penting adalah kesenangan yang semu masyarakat dipaksa percaya pada berbagai tayangan hingga terkadang harus engaduk2 emosinya sendiri bahkan membawa ke alam mimpi. Tak heran jika para remaja putri tergiur oleh dunia kepura2an. Bermimpi mendambakan tubuh seperti model dalam iklan di dalam film. Bahkan jika ada keajaiban ingin persis seperti mereka. Pantas jika aldaus Huxley, seorang pengarang fiksi ilmiah terkemuka pernah meramalkan ikhwal kehancuran spiritualitas (iman) akibat gencarnya tayangan kepura2an TV bahkan aldaus Huxley dalam bravo new world, salah satu buku karangannya menyebar TV sebagai musuh berwajah ramah.

Iklan

Ejekan:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s